Internasional

Malaysia-Thailand Panas, PM Ngamuk-Minta Nego Darurat

tps, CNBC Indonesia
Kamis, 04/06/2026 17:40 WIB
Foto: Kolase bendera Malaysia Thailand. (Reuters File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul mendesak dilakukannya pembicaraan darurat tingkat tinggi dengan Pemerintah Malaysia menyusul kebijakan sepihak Kuala Lumpur. Hal ini terkait pemberlakuan larangan impor sementara terhadap lima spesies udang asal Negeri Gajah Putih.

Langkah proteksionisme ini langsung memicu kepanikan massal di Bangkok karena dinilai mengancam mata pencaharian ratusan ribu peternak lokal serta rantai pasok industri makanan laut mereka. PM Anutin langsung mengeluarkan instruksi tegas dalam rapat kabinet.

Pemerintah Thailand memperingatkan bahwa pembatasan perdagangan yang berkepanjangan akan menghantam harga komoditas di tingkat peternak. Langkag tersebut akan merusak stabilitas ekonomi sektor perikanan nasional.


Mengutip kantor berita nasional Bernama, juru bicara Pemerintah Thailand Ratchada Thanadirek membeberkan kekhawatiran mendalam. "Jika masalah ini dibiarkan terus berlanjut, hal itu dapat memengaruhi harga udang di tingkat peternak dan pendapatan para peternak skala kecil," katanya dalam pernyataan resmi Kamis (4/6/2026).

Guna mengantisipasi dampak yang lebih sistemik, PM Anutin menginstruksikan jajaran menteri utamanya, termasuk Menteri Perdagangan Suphajee Suthumpun yang juga menjabat sebagai Wakil PM, serta Menteri Pertanian dan Koperasi Suriya Jungrungreangkit untuk segera mengambil langkah diplomasi dagang. Mereka diperintahkan mengadakan diskusi mendesak dengan otoritas Malaysia untuk mencari solusi perdagangan bilateral yang saling menguntungkan.

Thanadirek menambahkan bahwa kepala pemerintahan tidak ingin sektor hulu perikanan menjadi korban dari ketegangan regulasi perdagangan antar kedua negara bertetangga ini. Ia menegaskan komitmen penuh dari perdana menteri untuk melindungi para pekerja di industri tersebut.

"Perdana menteri menekankan bahwa masalah ini tidak boleh menjadi beban yang ditanggung sendiri oleh para peternak, karena industri udang menopang seluruh rantai pasok, termasuk peternakan, pengumpul, pabrik pengolahan, eksportir, dan tenaga kerja yang sangat besar," tutur Thanadirek.

Sebagai langkah mitigasi domestik, Thailand juga telah memerintahkan lembaga-lembaga terkait untuk menyangga dampak pembatasan impor dari Malaysia ini. Skenario yang disiapkan antara lain menstabilkan harga di tingkat peternak untuk menutup biaya produksi, mengelola potensi kelebihan pasokan di pasar dalam negeri, serta mempercepat upaya pencarian pasar ekspor alternatif di luar Malaysia.

Dampak finansial dari kebijakan Malaysia ini diproyeksikan akan sangat memukul devisa Thailand. Mengingat volume perdagangan yang besar antar kedua negara.

Mengutip media lokal Bangkok Post, Thailand biasanya mengeksport sekitar 6.000 hingga 8.000 ton udang ke Malaysia setiap tahunnya, mencakup sekitar 5% dari total ekspor udang Thailand secara global. Boikot ini berpotensi melenyapkan pendapatan Thailand hingga lebih dari 4 miliar baht atau setara dengan US$ 122,1 juta (Rp2,2 triliun) per tahun.


(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Surplus Neraca Dagang RI Turun Jadi USD 90 Juta di April 2026