RI Gila-gilaan Impor 15 Ribu Ekor Sapi Bunting di 2025, untuk Apa?

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Selasa, 02/06/2026 14:45 WIB
Foto: Sebanyak 3.288 sapi asal Australia tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (12/5/2022). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap Indonesia masih membutuhkan populasi sekitar 2 juta ekor sapi perah untuk mewujudkan swasembada susu nasional. Saat ini, jumlah sapi perah di dalam negeri baru sekitar 540 ribu ekor, sehingga masih diperlukan tambahan lebih dari 1 juta ekor lagi.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun mengatakan, kebutuhan tersebut menjadi tantangan besar mengingat produksi susu nasional saat ini baru mampu memenuhi sekitar 25% kebutuhan dalam negeri. Sisanya, sekitar 75%, masih bergantung pada impor.

"Nah ini target kalau mau swasembada lebih kurang kita butuh sapi itu sekitar populasi 2 juta ekor, dari sekarang 540.000 ekor, berarti masih sekitar 1 juta lebih yang kita perlukan," kata Makmun dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara di kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).


Meski demikian, pemerintah menilai target tersebut bisa dicapai melalui kombinasi peningkatan populasi dan produktivitas sapi perah. Menurut Makmun, jika produksi susu per ekor dapat ditingkatkan, kebutuhan populasi tidak harus mencapai 2 juta ekor.

"Tentu dengan paralel peningkatan produktivitas per ekornya. Kalau 540 ribu ekor bisa 25%, artinya kalau naik sekarang kan data BPS tercatat sekitar 12,5 (liter) per hari produksi harian per ekornya. Kalau bisa naik menjadi 15 liter atau 20 liter, maka tidak sampai 2 juta ekor populasi yang kita perlukan," jelasnya.

"Nah jadi paling tidak kalau dapat 1 juta produktivitas per ekornya dinaikkan, maka kita akan bisa swasembada," lanjut dia.

Pekerja melakukan bongkar muat sapi impor dari Australia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dari kapal Gelbray Express, Kamis (21/3/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Pekerja melakukan bongkar muat sapi impor dari Australia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dari kapal Gelbray Express, Kamis (21/3/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Sebagai bagian dari upaya menambah populasi, pemerintah bersama industri dan peternak telah mengimpor hampir 15 ribu ekor sapi bunting sepanjang tahun lalu. Jumlah tersebut disebut menjadi impor sapi bunting terbesar dalam sejarah Indonesia merdeka.

"Alhamdulillah dengan bantuan teman-teman industri, teman-teman para peternak tahun lalu kita mengimpor sapi bunting itu sekitar hampir 15 ribu ekor. Itu terbesarlah sepanjang sejarah kita mengimpor sapi ya dari data BPS," ujarnya.

Menurut Makmun, program tersebut mulai memberikan hasil karena sebagian sapi yang diimpor telah melahirkan dan berpotensi mempercepat regenerasi populasi sapi perah nasional.

"Tidak pernah lah kita punya impor dalam satu tahun sampai 15 ribu ekor. Ini satu tahun dengan partisipasi semua pihak itu totalnya lebih kurang 15 ribu ekor. Sekarang sudah punya anak, ya anggap saja 50% betina 50% jantan, berarti ada sekitar 7 ribu lebih ekor yang betina, ya itu bisa ber-regenerasi. Terus di samping yang populasi yang ada di dalam negeri lebih kurang 500 ribu tadi, artinya sekitar 2/3 yang betina ya. Nanti itu kan juga akan melahirkan, itu penambahan populasi setiap tahun ya hampir 100.000 lah," kata Makmun.

Selain memperbesar populasi, Kementan juga fokus meningkatkan produktivitas sapi perah lokal. Saat ini rata-rata produksi susu sapi perah nasional masih sekitar 12,5 liter per ekor per hari, jauh di bawah negara-negara maju yang sudah mampu menghasilkan lebih dari 30 liter per ekor per hari.

"Kalau di negara-negara lain produksinya ada di atas 30 liter per ekor per hari, kita ingin produktivitas peternak kita yang saat ini masih di bawah 20 liter per ekor per hari itu meningkat menjadi di atas 20 liter, mudah-mudahan bisa 25 liter per ekor per hari. Tentu ada banyak program atau perbaikan yang harus kita lakukan," ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menyiapkan berbagai langkah, mulai dari perbaikan kualitas pakan hingga penguatan kesehatan ternak.

"Pertama perbaikan dari sisi pakan, konsumsi pakan baik hijauan maupun konsentratnya, tentu itu akan bertahap meningkatkan produktivitas. Lalu kemudian perbaikan dari sisi kesehatan hewannya sehingga betul-betul hewan kita terjaga sehat," terang dia.

Lebih lanjut, Makmun mengatakan pemerintah kini juga menyediakan vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) secara penuh bagi sapi perah guna menjaga produktivitas peternak.

"Seperti yang lalu ada kejadian PMK, dan sekarang kami juga menyediakan vaksin khususnya untuk sapi perah secara 100%, sehingga tidak ada lagi yang terdampak dengan PMK dan kita berharap dengan begitu teman-teman peternak terus meningkatkan produksinya di lapangan," pungkasnya.


(wur/wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Surplus Pupuk 1,5 Juta Ton, RI Berpeluang Ekspor ke India