Vietnam Kalahkan RI, Siapa Raja Ibu Industri Dunia?

Thea Arbar, CNBC Indonesia
Senin, 01/06/2026 16:00 WIB
Foto: Baja Indonesia (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Vietnam berhasil mencuri perhatian dunia industri. Negara yang dua dekade lalu masih bergantung pada impor baja setengah jadi kini resmi masuk jajaran 10 produsen baja terbesar dunia, sekaligus menyalip Indonesia sebagai produsen baja terbesar di Asia Tenggara.

Produksi baja Vietnam diprediksi mencapai 24,7 juta ton, sedangkan produksi baja Indonesia diperkirakan berada di kisaran 19 juta ton per tahun.

Padahal, baja bukan sekadar komoditas industri biasa. Material ini dijuluki sebagai "Mother of Industry" atau ibu dari seluruh industri karena menjadi fondasi utama bagi sektor konstruksi, manufaktur, otomotif, energi, perkapalan hingga pertahanan.


Data World Steel Association menunjukkan Vietnam menempati posisi ke-10 produsen baja mentah (crude steel) terbesar dunia pada April 2026 setelah memproduksi 2,1 juta ton baja, naik 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut membuat Vietnam menggeser Italia dari daftar 10 besar produsen baja dunia.

Keberhasilan Vietnam menjadi bukti transformasi besar yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Pada awal 2000-an, industri baja negara tersebut masih mengandalkan impor billet untuk memenuhi kebutuhan konstruksi domestik.

Namun sejak 2010, Vietnam mulai membangun industri baja yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Produksi tidak lagi hanya berfokus pada baja konstruksi, tetapi juga merambah baja untuk sektor manufaktur, galangan kapal, energi, hingga pertahanan.

Peran besar dalam transformasi ini dimainkan oleh Hoa Phat Group melalui kompleks baja terpadu Hoa Phat Dung Quat. Fasilitas tersebut memproduksi berbagai jenis baja bernilai tambah tinggi, mulai dari baja teknik, baja pegas, baja kawat las, hingga baja rel kereta cepat.

Produksi baja mentah Vietnam melonjak dari 20 juta ton pada 2023 menjadi 24,6 juta ton pada 2025. Dalam dua tahun, kapasitas produksinya tumbuh sekitar 23%.

Hoa Phat sendiri memproduksi sekitar 11 juta ton baja mentah sepanjang 2025 atau setara 44,7% dari total produksi nasional Vietnam. Tahun ini perusahaan tersebut menargetkan produksi lebih dari 14 juta ton.

Tingginya kebutuhan pembangunan infrastruktur, kawasan industri, sektor energi, dan ekspansi manufaktur juga menjadi pendorong utama pertumbuhan konsumsi baja domestik Vietnam. Pada 2025, konsumsi baja nasional mencapai 24,1 juta ton atau naik 12,9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, keberhasilan Vietnam belum cukup untuk menantang penguasa sesungguhnya industri baja dunia.

China Tetap Raja "Ibu Industri" Dunia

Jika Vietnam baru masuk 10 besar dunia dan Indonesia berada di jajaran 15 besar, maka China bermain di level yang berbeda.

World Steel Association mencatat produksi baja mentah dunia mencapai 1,85 miliar ton pada 2025. Dari jumlah tersebut, China menghasilkan 960,8 juta ton atau setara 52% dari total produksi global.

Artinya, lebih dari separuh baja dunia berasal dari satu negara.

Dominasi tersebut membuat China layak disebut sebagai raja industri baja global sekaligus penguasa "ibu industri" dunia. Posisi China bahkan jauh meninggalkan negara lain.

India yang berada di posisi kedua hanya menghasilkan 164,9 juta ton atau sekitar 8,9% dari total produksi global. Sementara Amerika Serikat memproduksi 82 juta ton dan Jepang 80,7 juta ton.

Korea Selatan mencatat produksi 61,9 juta ton, Vietnam sekitar 24,7 juta ton, sedangkan Indonesia mencapai 19 juta ton.

Besarnya produksi China membuat arah industri baja dunia sangat bergantung pada kondisi ekonomi negara tersebut. Ketika sektor properti China melambat, harga bijih besi dan batu bara kokas global ikut tertekan. Sebaliknya, saat Beijing menggulirkan stimulus pembangunan infrastruktur, permintaan bahan baku dan harga komoditas langsung melonjak.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Indeks Aktivitas Manufaktur AS Naik ke Level 55,3