Internasional

Breaking: Iran Tembak Rudal ke Pangkalan Militer AS

tfa, CNBC Indonesia
Jumat, 29/05/2026 07:35 WIB
Foto: Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada Kamis (7/5). (Pool via WANA (West Asia News Agency)/ via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan pihaknya menargetkan pangkalan udara AS di wilayah tersebut pada hari Kamis waktu setempat. Ini sebagai tanggapan atas serangan baru, menandai bentrokan bersenjata kedua antara kedua negara yang bersaing minggu ini.

Konfrontasi terbaru dimulai dengan laporan ledakan tak lama setelah tengah malam di kota pelabuhan selatan Iran, Bandar Abbas. Wilayah itu merupakan rumah bagi pangkalan angkatan laut. 

Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan kepada media, seorang pejabat AS mengatakan pasukan Amerika menembak jatuh empat drone kamikaze Iran yang "menimbulkan ancaman di sekitar Selat Hormuz" dan juga menyerang stasiun kontrol darat di Bandar Abbas yang "akan meluncurkan drone kelima". Pejabat tersebut menggambarkan tindakan tersebut sebagai "terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk menjaga gencatan senjata".

Dilaporkan juga beberapa rudal dan drone dicegat di atas Kuwait. Analis sumber terbuka menyarankan secara daring bahwa proyektil tersebut mungkin menuju Pangkalan Udara Ali Al Salem di dekat perbatasan Kuwait-Irak.


IRGC kemudian merilis pernyataan yang mengatakan bahwa mereka menargetkan pangkalan AS yang terlibat dalam serangan sebelumnya di lokasi dekat Bandara Bandar Abbas. "Penyerang bertanggung jawab penuh atas konsekuensinya," kata pernyataan itum dimuat RT, Jumat (29/5/2026).

Permusuhan tersebut terjadi setelah serangan "pertahanan diri" AS terhadap kapal dan situs angkatan laut Iran di provinsi Hormozgan selatan pada hari Senin. Teheran mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap gencatan senjata yang dicapai pada 8 April.

Meskipun pejabat AS mengindikasikan pekan ini bahwa kedua pihak hampir mencapai kesepakatan perdamaian awal, tidak ada tanda-tanda bahwa Washington atau Teheran bersedia berkompromi. Kedua negara saling menuduh menetapkan persyaratan yang tidak dapat diterima.


(tfa/tfa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Krisis Energi Kuba Makin Parah, Pemadaman Listrik Masih Berlaku