Penguatan Riset Bakal Jadi Kunci Kemajuan Industri Jamu RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri jamu dalam negeri memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Alhasil, penguatan riset menjadi hal fundamental yang harus dilakukan agar sektor ini dapat tumbuh ke arah yang lebih baik.
Presiden Direktur PT Phytochemindo Reksa, Patrick Kalona mengatakan, berdasarkan pengalamannya menggeluti industri jamu selama bertahun-tahun, kegiatan riset jelas harus diposisikan sebagai investasi, bukan beban biaya bagi pelaku usaha.
"Karena saintifikasi itu selalu memberi nilai tambah dan membuka lebih jauh pemahaman kita akan efektivitas dan kualitas dari suatu produk," ujar dia dalam Health Forum bersama CNBC Indonesia, Selasa (26/5/2026).
Dirinya bersyukur dengan kehadiran program-program seperti BRIDGE (Business/Research Information, Development, and Good Manufacturing/Governance) dan Orang Tua Angkat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Program seperti ini terbukti mampu membantu para pelaku usaha industri jamu untuk mengurangi beban biaya penelitian.
Jika ditelusuri lebih jauh, program BRIDGE dan Orang Tua Angkat dari BPOM lebih dari sekadar mewadahi para pelaku usaha dalam melakukan riset terkait jamu dan obat-obatan herbal lainnya, melainkan juga menjembatani para UMKM dengan industri besar di sektor tersebut.
Patrick melanjutkan, bukan hanya pelaku usaha pengembang jamu yang bakal merasakan manfaat dari dukungan riset. Pada dasarnya, riset juga penting untuk meningkatkan literasi konsumen terhadap produk-produk kesehatan, termasuk jamu. Terlebih lagi, akses informasi terhadap produk tersebut semakin mudah seiring dengan perkembangan teknologi baru seperti Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).
"Akses dari pengalaman, pengetahuan konsumen itu jauh meningkat, sehingga saintifikasi itu memang menjadi suatu pembeda, tapi tentunya mungkin ke depannya menjadi suatu keharusan," kata dia.
Pada akhirnya, lanjut Patrick, keberadaan riset akan jadi suatu diferensiasi sekaligus bukti atas kualitas produk jamu di Indonesia yang layak dikonsumsi oleh para konsumen. Ke depannya, upaya penguatan investasi terhadap riset di industri jamu harus terus dilanjutkan, baik itu melalui kolaborasi dengan BPOM maupun Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan para akademisi.
(rah/rah) Add
source on Google