MARKET DATA

Bos Phytochemindo Ungkap Perusahaan Ekstrak Herbal Menjamur Karena Ini

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
26 May 2026 13:55
Presiden Direktur PT Phytochemindo Reksa Patrick Kalona memberi pemaparan dalam acara Health Forum di Studio CNBC Indonesia, Jakarta, Selasa, 26/5. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Presiden Direktur PT Phytochemindo Reksa Patrick Kalona memberi pemaparan dalam acara Health Forum di Studio CNBC Indonesia, Jakarta, Selasa, 26/5. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Direktur PT Phytochemindo Reksa, Patrick Kalona mengakui bahwa industri ekstrak herbal RI menghadapi banyak tantangan. Namun jika dilihat dalam beberapa tahun terakhir, industri ini dinilainya tetap tumbuh.

Hal tersebut didukung oleh ekosistem yang dibentuk oleh Badan POM dan juga kementerian terkait dalam mendorong kinerja industri.

"Kebetulan saat ini waktu kami melihat perkembangannya dalam 10 tahun terakhir, jumlah perusahaan ekstrak herbal itu terus meningkat," pungkasnya dalam Health Forum, Selasa (26/5/2026).

Ia mengatakan, 10 tahun lalu perusahaan ekstrak herbal ada di angka sekitar 6 perusahaan, tapi di hari ini seperti yang diketahui dari asosiasi jumlahnya sudah mendekati 22 perusahaan.

"Jadi itulah bukti nyata dengan pendampingan dan ekosistem yang dibentuk, semua bentuk usaha bisa ikut tumbuh dan kembang," terang Patrick.

Sebelumnya, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan BPOM RI, Mohamad Kashuri buka-bukaan soal kondisi industri jamu di Indonesia.

Ia mengatakan, saat ini industri jamu Indonesia menghadapi banyak tantangan yang sangat komplek mulai dari hulu hingga hilir. Salah satunya dari sisi regulasi.

Menurutnya sebagian besar pemain pengembangan jamu Indonesia ini tidak hanya industri besar, tapi juga dilakukan oleh UMKM banyak yang tidak memahami regulasi.

"Sehingga tentu akan mendapatkan hambatan saat regulasi atau pada saat melakukan marketing," jelasnya.

Selain itu lanjutnya, permasalahan lain yang dihadapi industri saat ini yakni terkait dengan aspek pemodalan. Padahal modal dinilai sangat penting dalam mendorong bisnis jamu, khususnya bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Ia menuturkan, saat ini sangat banyak UMKM jamu di Indonesia yang tidak memiliki modal cukup. Sehingga pada saat mereka mau mengembangkan bisnisnya jadi terkendala. Kemudian, yang berikutnya adalah aspek produksi. Dalam produksi ini, pelaku industri ujar Kashuri sangat membutuhkan bahan baku yang berkualitas dan memiliki standar. Namun seperti diketahui, bahan baku jamu saat ini masih banyak impor.

"Ini juga menjadi kendala di sini pada UMKM. Kemudian berikutnya adalah bagaimana mereka melakukan inovasi produknya. Produk yang memiliki manfaat yang baik, tapi juga produknya memiliki tampilan yang menarik. Ini juga menjadi kendala. Artinya yang berikutnya adalah marketing, pemasarannya juga menjadi tantangan. Bagaimana jamu kita bisa berperan mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Jadi sangat banyak, kompleks," terangnya.

(dpu/dpu) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Hadapi Banyak Tantangan, BPOM Ungkap Kondisi Industri Jamu RI


Most Popular
Features