MARKET DATA

65% Total Produksi Minyak RI Ternyata Berasal dari Perusahaan Ini

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
26 May 2026 09:05
Blok minyak dan gas bumi (migas) yang dioperasikan PT Pertamina Hulu Energi (PHE). (Dok. PHE)
Foto: Blok minyak dan gas bumi (migas) yang dioperasikan PT Pertamina Hulu Energi (PHE). (Dok. PHE)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia pada tahun 2025 tercatat memproduksi minyak mentah siap jual atau lifting mencapai total 605.300 barel per hari (bph). Dari keseluruhan produksi tersebut PT Pertamina Hulu Energi menyumbang hingga 65% produksi minyak nasional atau mencapai 396.000 bph pada tahun 2025.

CEO PHE Awang Lazuardi menyebutkan kontribusi produksi minyak mentah nasional oleh perusahaan berasal dari 27% wilayah kerja keseluruhan operator yang berproduksi di Indonesia.

"Saat ini alhamdulillah kita berkontribusi untuk minyak untuk yang domestik untuk produksi nasional, kita berkontribusi sebesar 65% dari total lifting minyak domestik sedangkan untuk gas kita berkontribusi 35% lifting gas domestik untuk performance atau data di tahun 2025," jelas Awang dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Selasa (26/5/2026).

Berdasarkan data PHE, dari keseluruhan produksi minyak dalam negeri oleh perusahaan, masih ada produksi perusahaan dari lapangan internasional yang mencapai 160.000 bph pada tahun 2025. Artinya, produksi minyak mentah perusahaan secara total mencapai 556.000 bph.

Capaian tersebut didorong pula oleh aktivitas pengeboran dan intervensi sumur, realisasi perusahaan tahun 2025 mencapai 20 sumur eksplorasi, 887 sumur eksploitasi, 1.288 kegiatan workover (WO), serta lebih dari 37 ribu kegiatan well intervention and well services (WIWS).

Ditambah, perusahaan berhasil mengelola 3 WK eksplorasi yakni Binaiya (Maluku), Lavender (Sulawesi Tenggara), dan Bobara (Papua).

Di balik dominasi tersebut, perusahaan dihadapkan dengan laju penurunan produksi alami (natural decline) yang tinggi pada sumur-sumur minyak tua di Indonesia. Rata-rata penurunan alami untuk minyak tercatat mencapai 24% per tahun, sedangkan untuk gas berada di angka 21% per tahun.

"Ini artinya apa, jika kita tidak melakukan apa-apa istilahnya tidak ada effort untuk melakukan menahan decline maka produksi kita secara natural setiap tahun untuk minyak akan turun 24% sedangkan untuk gas akan turun sebesar 21%," paparnya.

Perusahaan mencatat, per April 2026 realisasi produksi minyak domestik menurun berada di angka 367.000 bph dengan kontribusi internasional sebesar 109.000 bph. Penurunan di awal tahun tersebut disebabkan oleh kendala pada pipa transportasi gas di Blok Rokan serta dampak geopolitik di Timur Tengah sehingga ada penutupan lapangan West Qurna di Irak.

"Di Irak namanya West Qurna, beberapa hari setelah perang pemerintah Irak meminta lapangan tersebut harus di-shut in harus dimatikan. Di situ kita kehilangan sekitar 100.000 barrel oil per day. Dan sampai sekarang produksi sudah diizinkan tapi belum full hanya kurang dari 10%," bebernya.

Agar mengejar target produksi tahun 2026, PHE menyiapkan program kerja masif yang mencakup pengeboran 800 sumur pengembangan, 1.200 pekerjaan workover, serta lebih dari 33.000 aktivitas well intervention. Strategi ini diharapkan mampu menahan laju penurunan produksi sekaligus menambah cadangan baru bagi negara.

"Aset-aset yang sekarang sudah berproduksi tentunya kita tetap usahakan untuk tetap meningkat produksinya bukan hanya untuk melawan decline-nya. Melalui pekerjaan multistage fracturing, melakukan pengembangan Enhanced Oil Recovery baik menggunakan steam maupun mengenakan chemical injection," tutup Awang.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking News! UEA Putuskan Keluar dari OPEC


Most Popular
Features