Daftar Raksasa Sawit Swasta RI, Produksi Jutaan Ton CPO-Kuasai Lahan
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia tengah jadi sorotan menyusul keputusan Presiden Prabowo Subianto menetapkan ekspor sumber daya alam (SDA), yaitu minya sawit, batu bara, dan ferroalloy wajib 1 pintu, melalui BUMN yang ditunjuk. BUMN tersebut adalah PT Danantara Sumberdaya Indonesia PT DSI).
Hal itu diungkapkannya saat menyampaikan Pidato Presiden RI pada Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Terkait KEM dan PPKF RAPBN 2027 dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD-RI, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, keputusan itu muncul setelah Presiden menerima laporan adanya praktik under invoicing dalam ekspor komoditas Indonesia. Modusnya dilakukan dengan menurunkan harga ekspor di dokumen resmi atau mengurangi volume barang. Hal itu diungkapkannya dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
"Harganya dimainin lebih rendah dibandingkan dari harga dijual atau kadang-kadang volume diturunkan. Jadi mereka bisa dibilang sebagian diselundupkanlah. Jadi habis itu beliau nanya ke saya, coba kamu pelajari," ungkap Purbaya, dikutip Senin (25/5/2026).
Purbaya lalu menjalankan perintah Prabowo itu.
"Jadi saya periksa 10 perusahaan CPO terbesar di Indonesia. Saya random pengapalannya ke luar negeri seperti apa. Rupanya biasanya ekspor ke AS nggak langsung, mereka lewat pedagang perantara di Singapura," kata Purbaya.
Di lain kesempatan, Purbaya mengaku memeriksa lebih dari 15 perusahaan CPO (crude palm oil/ minyak sawit entah). Dia mengaku sudah berkoordinasi ke Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin soal adanya indikasi 10 perusahaan itu.
Bahkan, ungkapnya, temuan-temuan sudah diserahkan ke pihak Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk diselidiki lebih lanjut. Purbaya mengaku sedang menunggu hasil penyelidikan kedua instansi tersebut.
Seperti diketahui, Indonesia merupakan produsen minyak sawit nomor 1 terbesar di dunia.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, total produksi minyak sawit nasional tahun 2025 mencapai 56,55 juta ton, dengan ekspor sebanyak 32,34 juta ton. Volume ekspor ini mencakup CPO dan produk olahan lainnya, minyak kernel d olahannya, biodiesel, serta oleokimia.
USDA juga mencatat, Indonesia masih menjadi raksasa utama minyak sawit dunia. Pada periode produksi 2025/2026, produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan mencapai 46,7 juta metrik ton. Angka itu setara 57% dari total produksi global yang diproyeksikan sebesar 81,27 juta ton. Artinya, lebih dari separuh minyak sawit dunia berasal dari Indonesia.
Malaysia berada di posisi kedua dengan produksi 20,2 juta ton atau sekitar 25% pasar global. Setelah itu jaraknya langsung melebar ke Thailand yang hanya memproduksi 3,9 juta ton.
Lantas, siapa saja perusahaan swasta yang jadi raja sawit di Indonesia?
Raksasa Sawit dengan Lahan Terluas
Jika berdasarkan luasan lahan, perusahaan sawit swasta terbesar di Indonesia adalah Golden Agri-Resources. Perusahaan ini diperkirakan menguasai sekitar 536 hektare (ha) lahan sawit di Indonesia.
Di posisi kedua ada Astra Group dengan luasan lahan ditaksir mencapai 284.800 ha. Kemudian ada First Resources di urutan ketiga yang diperkirakan mempunyai luasan 263.400 ha.
Namun, sebenarnya, luas lahan sawit terbesar di Indonesia memang bukan dikuasai oleh perusahaan swasta. Melainkan BUMN, yaitu PalmCo Holding BUMN, dengan luas lahan sawitnya ditaksir mencapai 586.000 ha.
Berikut perusahaan sawit swasta dengan lahan terbesar di Indonesia:
Sebagai catatan, data-data tersebut mengacu pada laporan keuangan perusahaan dibandingkan dengan data GAPKI yang mencatat produksi minyak sawit nasional tahun 2024 mencapai 53,6 juta ton.
(dce/dce) Add
source on Google