RI Target Bangun 100 Giga Watt PLTS Dalam 3 Tahun, Begini Siasat ESDM
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 100 Giga Watt (GW) dalam waktu tiga tahun ke depan. Hal itu sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa pemerintah tengah merancang ulang seluruh perencanaan kelistrikan nasional agar selaras dengan target ambisius tersebut. Pihaknya sendiri tengah menyinkronkan infrastruktur jaringan listrik agar mampu menyerap kapasitas energi bersih dalam skala besar.
"Ini adalah topik yang sangat besar dan sekarang ada tambahan arahan Presiden untuk mencapai 100 GW tenaga surya dalam waktu tiga tahun. Kami sekarang dengan cepat mengatur semua perencanaan kelistrikan nasional untuk memenuhi persyaratan ini," ujarnya dalam acara The 50th IPA Convention & Exhibition (Convex) di ICE BSD, Tangerang, dikutip Senin (25/5/2026).
Fokus utama dari program pembangunan PLTS 100 GW tersebut adalah untuk menekan penggunaan pembangkit listrik tenaga diesel, terutama di wilayah Indonesia Timur yang memiliki biaya operasional tinggi. Pemerintah memprioritaskan program elektrifikasi pedesaan pada tahun 2029 mendatang.
"Jadi bagian besar dari program tenaga surya 100 GW adalah bagaimana mengurangi penggunaan diesel di bagian timur Indonesia. Elektrifikasi perdesaan akan menjadi prioritas kami hingga tahun 2029 kita harus memberikan 100% akses listrik kepada masyarakat," kata Eniya.
Untuk bisa merealisasikan target itu, Indonesia membutuhkan pendanaan yang sangat besar dari berbagai pihak. Pemerintah memproyeksikan kebutuhan investasi mencapai lebih dari US$ 100 miliar setara Rp 1.767 triliun, di mana porsi terbesar diharapkan datang dari keterlibatan sektor swasta melalui skema produsen listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP).
"Tentu saja kolaborasi internasional dan sektor swasta sangat diperlukan, investasi dari sektor swasta diproyeksikan akan sangat besar namun kami memerlukan lebih dari 100 miliar dolar AS investasi dan saya rasa 70% berasal dari IPP sehingga sektor swasta akan bergabung dalam program besar ini," tandasnya.
Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto mempercepat langkah transisi ke energi hijau salah satunya dengan target pembangunan PLTS kapasitas raksasa. Dia menargetkan Indonesia bisa mencapai kapasitas terpasang hingga 100 GW setidaknya pada 2029 mendatang.
Prabowo menegaskan bahwa pemerintah akan memaksimalkan pemanfaatan listrik dari energi surya dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
"Kami ingin bergerak sangat cepat untuk menggunakan listrik dari energi surya. Kami memiliki rencana dan kami bertekad untuk berjalan secepat mungkin, dalam waktu tiga tahun, kami ingin mencapai 100 gigawatt energi surya," ujar Prabowo dalam acara Indonesia-Japan Business Forum di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026).
Rencana percepatan pembangunan PLTS tersebut dinilai mendesak untuk direalisasikan. Menurutnya, eskalasi konflik dan ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang, khususnya di kawasan Timur Tengah menjadi ancaman bagi stabilitas pasokan energi nasional.
"Bagi kami, hal ini lebih mendesak karena situasi geopolitik di Timur Tengah memberikan ketidakpastian strategis bagi keamanan energi kami," tegas Prabowo.
Sebagai antisipasi, pemerintah terus berupaya mengamankan pasokan melalui pemanfaatan sumber daya domestik. Selain tenaga surya, Indonesia juga memiliki potensi besar di sektor panas bumi serta tengah menggenjot produksi bahan bakar nabati (biofuel) seperti biodiesel 50% (B50) dan bioetanol.
(pgr/pgr) Add
source on Google