MARKET DATA

Misbakhun Ungkap Beda Pelemahan Rupiah Saat Krisis 1998 dan 2026

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
25 May 2026 09:55
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengungkapkan banyak pihak-pihak yang menyamakan pelemahan nilai tukar rupiah saat ini dengan kondisi krisis 1998. Hal ini banyak beredar di media sosial.

Misbakhun menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar saat ini dan pasa masa krisis 1998 berbeda. Dia menjelaskan, posisi nilai tukar rupiah saat ini bergerak pada kisaran level Rp 16.000-an terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kemudian saat ini, rupiah bergerak melemah di kisaran level Rp 17.717 terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Sementara pada krisis 1998, Misbakhun menyebut rupiah bergerak dari level Rp 2.400 ke level Rp 17.600 per dolar AS.

"Kita harus yakinkan kepada masyarakat Indonesia bahwa rupiah Rp 17.800 itu memang sebuah fenomena. Angka yang sangat tinggi untuk saat ini, tapi ingat bahwa Rp saat ini mungkin pernah menyamai krisis 98. Krisis 98 rupiah Rp 17.500-Rp 17.800 itu berangkat dari angka berapa? Berangkat dari angka Rp 2.400. Rupiah sekarang berada pada level Rp 17.600 itu berangkat dari Rp 16.000 sekian. Situasi struktur ekonomi kita juga berbeda," papar Misbakhun dalam acara Jogja Financial Festival, Sabtu (23/5/2026).

Dia pun memastikan hingga saat ini tidak ada laporan yang menyebutkan ada bank gagal bayar alias default ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh level Rp17.600.

"Sekarang rupiah Rp 17.600 belum ada perbankan atau swasta yang mengumumkan ada kegagalan bayar, menghadapi tekanan, iya," kata Misbakhun

Menurutnya, struktur ekonomi Indonesia tahun ini dan pada masa krisis moneter 1998 saat nilai tukar rupiah yang tembus level Rp17.000 per dolar AS jauh berbeda.

Dia menceritakan, pada masa krisis 1998 terjadi economic bubble di Tanah Air. Ini terjadi karena berbagai sektor ekonomi mengalami overheating. Selain itu, pihak perbankan atau swasta yang melakukan pinjaman dalam denominasi valas tidak melakukan upaya lindung nilai alias hedging.

"Maka ketika rupiah mengalami tekanan yang naik mereka kemudian mengalami gagal bayar alias default," ujar Misbakhun.

Namun pada masa-masa tersebut, dia menuturkan banyak juga pihak yang meraup keuntungan tidak terduga atau windfall dari selisih kurs saat itu.

"Sekarang juga yang sama, tetapi hanya pada sektor tertentu. Artinya apa? Secara fundamental ekonomi kita sangat kuat. Pada saat itu 98 kita mengalami pertumbuhan minus 13%. Inflasi jangan ditanya. Tetapi kita sekarang menghadapi situasi ekonomi yang tumbuh," tegasnya.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Purbaya Minta Warga RI Tak Perlu Panik Dolar Rp17.500, Ini Alasannya


Most Popular
Features