Sebut Penjualan Rumah Anjlok, Bos Pengembang Harap Ini Penyelamat

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Jumat, 22/05/2026 18:25 WIB
Foto: Suasana proyek pembangunan perumahan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021). Harga hunian rumah hunian masih menunjukkan kenaikan pada kuartal IV-2020 namun laju kenaikan melambat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan pengembang mengungkapkan kondisi pasar perumahan nasional saat ini sedang tidak baik-baik saja. Penurunan penjualan rumah subsidi maupun komersial terjadi di banyak daerah, termasuk wilayah yang selama ini menjadi tulang punggung pasar properti nasional seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Di tengah lesunya pasar, REI justru menaruh harapan besar pada rencana pemerintah memperpanjang tenor kredit pemilikan rumah (KPR) hingga 40 tahun. Kebijakan itu bisa membuka akses rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini sulit lolos pembiayaan bank.

"Presiden berani men-statement-kan sesuatu yang kita sudah perjuangkan hanya untuk extend 10 tahun saja sulit, beliau satu kali lipat. Jadi 40 tahun masa tenor KPR ini membuka peluang besar," kata Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Nelly Suryani atau kerap disapa Maria dalam Diskusi Media Inovasi Pembiayaan Perumahan Bagi Pekerja Informal di Kemang, Jaksel, Jumat (22/5/2026).


Selama ini penyerapan KPR subsidi FLPP paling besar berasal dari kelompok masyarakat desil 4 sampai 6. Dengan tenor yang lebih panjang, cicilan rumah disebut akan jauh lebih murah sehingga masyarakat bergaji Rp2 jutaan pun bisa menjangkau rumah subsidi.

"Begitu masa tenor diperpanjang menjadi 40 tahun maka angsurannya turun kepada Rp773 ribu sekian. Sehingga bank selalu mensyaratkan sepertiga penghasilan, maka ini bisa menjangkau masyarakat dengan gaji Rp2,3 juta sampai Rp2,5 juta," ujar Maria.

Ia membeberkan kondisi penjualan rumah subsidi anggota REI yang disebut sedang terpukul. Hingga 21 Mei 2026, realisasi FLPP anggota REI baru sekitar 24 ribu unit atau hanya sekitar 42% dari total realisasi nasional sebanyak 59.458 unit.

"Yang memprihatinkan itu angkanya. Not even 30 ribu. Jawa Barat yang biasanya kuat sekarang hanya tumbuh 24 persen, Jawa Tengah malah lebih parah," ungkapnya.

Kondisi tersebut menunjukkan pasar properti nasional sedang mengalami tekanan berat. Bahkan beberapa daerah yang sebelumnya menjadi andalan penjualan rumah subsidi mulai kehilangan momentum.

"Seluruh daripada realisasi REI menceritakan 37 DPD kami semua dalam kondisi sangat-sangat susah," kata Maria.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Hadiah Prabowo ke Warga Bantaran Rel - Trump Tunda Pajak Bensin