Rupiah Melemah Tak Bikin Harga Kedelai Meledak, Ternyata Ini Alasannya

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Jumat, 22/05/2026 18:15 WIB
Foto: Kolase tempe dan tahu. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum berdampak pada harga maupun produksi tempe dan tahu di tingkat perajin. Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) memastikan pasokan serta harga kedelai untuk perajin masih terjaga meski mayoritas bahan baku berasal dari impor.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berada di level Rp17.690/US$ atau terdepresiasi 0,28% dan sempat menembus Rp17.700/US$.

Namun, Sekretaris Jenderal Gakoptindo Wibowo Nurcahyo mengatakan kondisi tersebut belum memukul industri tempe dan tahu rakyat.


"Untuk perajin tempe tahu secara ukuran tidak terpengaruh dollar. Yang berpengaruh itu saat perang Iran terjadi, karena harga kemasan sedang naik," kata Wibowo kepada CNBC Indonesia, Jumat (22/5/2026).

Ia menegaskan, hingga saat ini belum ada kenaikan harga kedelai di tingkat perajin meski rupiah sedang berada dalam tekanan terhadap dolar AS.

"Tidak terdampak. Pemerintah melalui Bapanas (Badan Pangan Nasional) sudah memberikan aturan ke para importir," ujarnya.

Wibowo menjelaskan, aturan tersebut tertuang dalam komitmen bersama stabilisasi pasokan dan harga kedelai yang dibuat pada April 2026. Dalam kesepakatan itu, importir diminta menjaga harga kedelai di tingkat perajin agar tetap stabil.

Dalam dokumen komitmen bersama itu disebutkan juga, harga di tingkat importir mengikuti Harga Acuan Penjualan (HAP) maksimal Rp11.500 per kilogram (kg). Dengan demikian, harga kedelai di tingkat konsumen atau perajin tahu dan tempe dijaga agar tidak melebihi Rp12.000 per kg.

Selain itu, importir juga diminta menjaga ketersediaan pasokan kedelai sebagai bahan baku industri tempe dan tahu nasional.

Menurut Wibowo, kebijakan tersebut membuat harga tempe dan tahu di tingkat produsen sejauh ini belum mengalami kenaikan maupun pengurangan ukuran produksi di tengah pelemahan rupiah.

"Tidak ada," katanya, saat ditanya soal kemungkinan kenaikan harga atau penyusutan volume produksi.

Ia menjelaskan, secara hitungan produksi, 1 kg kedelai dapat menghasilkan sekitar 1,6 kg tempe. Sementara itu, harga jual tempe di tingkat perajin saat ini masih berada di kisaran Rp15.000 per kg.

Dengan kondisi tersebut, perajin menilai tekanan kurs dolar AS sejauh ini masih belum mengganggu produksi maupun harga jual tempe dan tahu di pasar domestik.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah 'Dihantam' Dolar AS, Menkeu: Jangan Panik!