CT & Purbaya Bedah APBN: Setoran Pajak, Utang Sampai Kas Terbongkar

Zahwa Madjid, CNBC Indonesia
Jumat, 22/05/2026 16:50 WIB
Foto: Chairman & Founder CT Corp, Chairul Tanjung dan Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Jumat (22/5/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menghadiri festival keuangan terbesar di Indonesia, Jogjakarta Financial Festival 2026 di Jogja Expo Centre (JEC) pada hari ini, Jumat (21/5/2026).

Dalam acara ini, Purbaya melakukan sesi one on one talk dengan Founder CT Corp Chairul Tanjung. Purbaya pun diberondong berbagai pertanyaan terkait dengan kondisi ekonomi terkini dari Chairul Tanjung yang akrab dipanggil Pak CT.


Pada awal sesi, Purbaya menjelaskan mengenai alasan pembentukan badan ekspor di bawah BPI Danantara, yakni Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Hal ini berawal karena Purbaya merasa dirinya rugi dalam hal penerimaan pajak dari ekspor sumber daya alam Indonesia. Kerugian Purbaya ini ditenggarai karena adanya praktik under-invoicing dari ekspor sumber daya alam RI.

Foto: Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Jumat (22/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

"Jadi kalau saya sebagai Menteri Keuangan, saya rugi. Pajak ekspor yang saya peroleh setengahnya separuhnya. Pajak pendapatan juga separuhnya. Devisa juga lebih sedikit. Devisa juga lebih sedikit dan diparkir di luar negeri. Tadinya saya pikir ya udah Pak, kita hajar aja, kita tegakkan pengawasan di lapangan, biaya cukai dan lain-lain. Biaya cukai juga gampang bocor," katanya.

Presiden Prabowo Subianto ternyata pun sepakat untuk membereskan masalah ini dengan membangun DSI. Perusahaan baru ini nantinya akan menjadi pengelola ekspor sumber daya alam Indonesia. Tahap awal ada batu bara, ferro alloy dan CPO. Dengan adanya, badan pengelola ekspor ini diharapkan praktik under-invoicing bisa hilang dan penerimaan negara tak lagi bocor.

"Jadi yang jual hanya DSI itu ke pasar-pasar dunia. Dengan approach seperti itu, yang tadi under-invoicing segala macam sudah hilang. Untuk saya, saya untung. Income saya naik dua kali lipat, mungkin lebih," ujarnya.

"Karena dari income tax, dari pajak penghasilan dan lain-lain, dari ekspor tax juga saya untung. Dan yang paling penting adalah barang kita tidak diselundupkan ke luar negeri," katanya.

Dalam one on one ini, Purbaya pun ditanya oleh Pak CT mengenai perekonomian Indonesia, pengelolaan fiskal dan arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Menkeu menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia terus menunjukkan kinerja positif. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 mencapai 5,61%, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan akselerasi konsumsi pemerintah.

"Sekarang mesin ekonomi kita sudah mulai bergerak dua-duanya, mesin pemerintah dan mesin sektor swasta. Dan ini akan kita jalankan terus ke depan," ujar Purbaya.

Purbaya menjelaskan bahwa APBN tetap dikelola secara prudent dan efektif untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menjaga kesehatan fiskal. Hingga April 2026, defisit APBN tetap terkendali di level 0,64 persen terhadap PDB.

"Defisit tidak bertambah, tetapi pertumbuhan ekonomi kita lebih cepat dari desain. Jadi kita bisa manage anggaran lebih efisien dan memastikan sektor swasta lebih hidup lagi," kata Purbaya.

Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat iklim investasi dan kemudahan berusaha melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Pemerintah juga membentuk satuan tugas untuk mempercepat penyelesaian berbagai hambatan investasi.

"Semua pelaku bisnis boleh melaporkan kendalanya ke satgas, dan setiap minggu kita adakan sidang untuk membereskannya," paparnya.

Purbaya juga menegaskan komitmen Pemerintah untuk mendorong partisipasi swasta dalam menggerakkan ekonomi domestik. "Selain belanja pemerintah, kita menggerakkan private sector juga, sehingga mesin kita jalan dua-duanya, yaitu sektor swasta dan pemerintah. Sektor swasta musti diaktifkan lagi, kita perbaiki iklim investasinya, salah satunya melalui Satgas Debottlenecking" ungkapnya.

Dengan kombinasi kedua mesin penggerak perekonomian tersebut dan berbagai perbaikan yang dilakukan oleh Pemerintah, Menkeu meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat tumbuh kuat, dengan defisit yang tetap terjaga.

"Kita sudah berkesinambungan fiskalnya, Coretax sekarang juga sudah lebih baik. Saya tidak akan naikkan tarif pajak, tapi saya akan bikin ekonominya bagus, sehingga orang akan bayar pajak dengan gembira. Defisit nggak bertambah, tapi perekonomian kita tumbuh lebih cepat, karena kita bisa me-manage anggaran dengan lebih efisien dan mendorong partisipasi swasta," ungkapnya.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Temui Prabowo, Purbaya Bawa Daftar 10 Eksportir Under Invoicing