MARKET DATA

Purbaya Bilang Bank Dunia Berdosa, Salah Hitung Proyeksi Ekonomi RI

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
09 April 2026 13:37
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat tiba di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/4/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat tiba di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/4/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menganggap, Bank Dunia atau World Bank salah hitung dengan meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,7% pada tahun ini.

Ia mengatakan, laju pertumbuhan itu sama saja menganggap Indonesia akan menghadapi resesi, karena lebih rendah dari pertumbuhan 2025 yang mampu bertahan di level 5,11%.

"Berarti World Bank menghitung kita mau resesi, turun ke bawah sekali. Setelah itu kan kalau rata-ratanya ke 4,7% saya pikir World Bank salah hitung," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Purbaya masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini melaju kencang di atas target APBN 2026 sebesar 5,4%. Sebab, ia percaya diri, laju pertumbuhan kuartal I-2026 akan lebih dari 5,5-5,6%.

Menurutnya, laju pertumbuhan yang semakin tinggi ini bisa terealisasi karena pemerintah fokus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan program-program prioritas, sambil menjaga likuiditas sektor swasta tetap tinggi.

"Yang penting bagi kita adalah Memastikan program-program berjalan dengan baik, sistem keuangan siap untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dan iklim investasinya membaik. Saya pikir dengan usaha seperti ini nanti juga pertumbuhan ekonomi akan berbalik lagi," ucap Purbaya.

Purbaya menganggap, perhitungan World Bank untuk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 memasukkan faktor harga minyak yang tinggi akibat perang di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Padahal, kini harga minyak ia anggap mulai mereda.

"Tapi dia (Bank Dunia) sudah melakukan dosa besar dia menimbulkan sentimen negatif ke kita. Nanti saya tunggu permintaan maaf dari mereka ketika harga minyak sudah balik lagi ke level yang normal," ucap Purbaya.

"Kalau dia berubah prediksi ekonominya lagi Tapi saya sih akan optimalkan semua mesin ekonomi yang ada di sini," tegasnya.

ia menekankan, proyeksi pertumbuhan terbaru dari World Bank ini pun tampak belum memasukkan faktor kebijakan fiskal pemerintah di bawah kepemimpinannya.

"Mungkin aja World Bank betul nanti tapi saya nggak tahu. Yang jelas kalau di angka saya sih sepertinya sedang membaik terus ke depan dan kita akan jaga terus. Mungkin World Bank belum tahu jurus-jurus rahasia saya, jurus-jurus rahasia Pak Prabowo," ucap Purbaya.

Direktur Jenderal Startegi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu juga menganggap proyeksi ekonomi World Bank terhadap Indonesia kerap meleset, dan selalu mematok proyeksi di bawah realisasinya.

"Dan tahun lalu ingat nggak mereka bilang 4,8% kita jatuhnya 5,1%. Jadi enggak apa-apa, ini kita senang bahwa World Bank itu dan bersama dengan investor-investor yang lain itu ingin sekali memantau perekonomian Indonesia dan kita bisa deliver dan itu menjadi kabar baik bagi investor," paparnya.

Untuk diketahui, World Bank atau Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7% yang turun dari perkiraan sebelumnya 4,8%.

Dikutip dari East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 yang dirilis pada Rabu (9/4/2026). Namun, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang hanya 4,2%.

Bank Dunia menegaskan pertumbuhan di kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) melambat pada tahun 2026 dipengaruhi oleh guncangan eksternal, menurut Laporan Pembaruan Ekonomi EAP Grup Bank Dunia yang dirilis hari ini.

"Pertumbuhan regional diproyeksikan melambat menjadi 4,2% pada tahun 2026 dari 5,0% pada tahun 2025, karena guncangan energi akibat konflik Timur Tengah memperburuk dampak buruk dari peningkatan hambatan perdagangan, ketidakpastian kebijakan global, dan kesulitan ekonomi domestik," ujar Carlos Felipe Jaramillo, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, dalam rilis, Rabu (9/4/2026).

(arj/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Tanda Ekonomi RI Membaik Muncul, Purbaya Ungkap Buktinya!


Most Popular
Features