Seorang pekerja menurunkan karung berisi daun teh yang baru dipetik dari sebuah kendaraan di Perkebunan Teh Dunkeld di Hatton, Sri Lanka. Perang AS-Iran mulai menekan industri teh Sri Lanka senilai US$ 1,5 miliar (Rp26,39 triliun, dengan kurs Rp17.596 per 1 dolar AS). Industri ini menjadi tumpuan hidup lebih dari 2 juta pekerja, mulai dari petani, pengolah hingga eksportir teh di negara tersebut. (REUTERS/Akila Jayawardena)
Dilansir Reuters Jumat (22/5/2026), ekspor teh Sri Lanka pada Maret tercatat turun 17,3% secara tahunan menjadi 114,75 juta dolar AS atau sekitar Rp2,01 triliun. Padahal pasar Timur Tengah selama ini menyerap hampir separuh ekspor Teh Ceylon dengan nilai mencapai 680 juta dolar AS per tahun atau setara Rp11,96 triliun. (REUTERS/Akila Jayawardena)
Iran yang menjadi salah satu pembeli terbesar teh Sri Lanka menghentikan permintaan sejak perang pecah pada 28 Februari. Ketua Asosiasi Pedagang Teh Ceylon, Lushantha De Silva, mengatakan kondisi itu langsung memicu penurunan harga teh, meski beberapa pasar lain mulai meningkatkan pembelian melalui lelang. (REUTERS/Akila Jayawardena)
Namun kenaikan permintaan dari pasar alternatif belum mampu menutup anjloknya ekspor ke negara-negara Timur Tengah lainnya. Data Badan Pengembangan Ekspor Sri Lanka menunjukkan ekspor ke Irak turun 38 persen, sementara pengiriman ke Uni Emirat Arab (UEA) merosot hingga 93%. (REUTERS/Akila Jayawardena)
Dampak krisis juga dirasakan Dilmah, merek teh global asal Sri Lanka yang sekitar 30% bisnisnya bergantung pada pasar Timur Tengah. Ketua dan CEO perusahaan, Dilhan Fernando, mengatakan gangguan logistik dan rantai pasokan kini menjadi tantangan utama, termasuk lonjakan biaya pengiriman dan terbatasnya kapasitas kapal angkut ekspor. (REUTERS/Akila Jayawardena)
Menurut Fernando, sektor perhotelan premium di kawasan Teluk seperti Dubai dan Arab Saudi ikut terdampak oleh ketidakpastian geopolitik. Kondisi itu membuat Dilmah mulai mencari pasar baru di Amerika Serikat, Kanada, dan Amerika Selatan guna mengurangi ketergantungan terhadap Timur Tengah. (REUTERS/Akila Jayawardena)
Analis industri menilai krisis Iran menjadi peringatan keras bagi industri teh Sri Lanka yang selama dua abad masih bergantung pada ekspor teh curah dengan margin keuntungan rendah. (REUTERS/Akila Jayawardena)
Mereka mendorong produsen beralih ke teh premium, teh kemasan, dan membangun lebih banyak merek internasional agar lebih tahan menghadapi gejolak geopolitik global. (REUTERS/Akila Jayawardena)