Purbaya Jamin Harga-harga Terkendali Meski Dolar Betah di Rp17.600
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih terus bertengger di level Rp 17.600/US$ tidak akan memengaruhi harga-harga di dalam negeri.
Menurutnya, ini karena tren inflasi di Indonesia yang rendah, bahkan saat pertumbuhan ekonomi mampu tumbuh cepat pada kuartal I-2026.
Saat ekonomi tumbuh 5,61% yoy pada kuartal I-2026 atau menjadi yang tertinggi sejak kuartal III-2022, tekanan inflasi hingga April 2026 masih terjaga di level kisaran target pemerintah, yakni 2,42% yoy.
"Jadi ke depan inflasi akan tetap terjaga," kata Purbaya saat konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta di kantornya, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Purbaya mengatakan, kinerja ini juga akan didukung kebijakan pemerintah yang masih konsisten mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga akhir tahun. Di tengah tekanan kurs hingga gejolak harga minyak mentah dunia.
Menurut Purbaya, pemerintah memiliki kapasitas anggaran yang cukup untuk meredam tekanan itu karena asumsi kurs dan harga minyak mentah dunia telah disesuaikan dengan perkembangan terkini.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah kembali mengakhiri perdagangan dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (19/5/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,31% ke level Rp17.695/US$. Meski sedikit menjauh dari area Rp17.700/US$, posisi ini tetap menjadi level penutupan all time low rupiah.
Pelemahan rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Pada pembukaan pagi tadi, rupiah dibuka melemah tipis 0,06% ke level Rp17.650/US$. Tekanan kemudian sempat semakin dalam hingga rupiah menembus level psikologis Rp17.730/US$ pada perdagangan intraday.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau bergerak stabil. Per pukul 15.00 WIB, DXY berada di level 99,172.
(arj/arj) Add
source on Google