Mau Ekonomi RI Tumbuh Tinggi, Ekonom Ingatkan Jangan Abaikan Swasta!

Teti Purwanti, CNBC Indonesia
Selasa, 19/05/2026 11:25 WIB
Foto: Ekonom Senior, Raden Pardede dalam acara SMBC Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026). (YouTube/SMBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom Senior, Raden Pardede mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berisiko stagnan jika hanya mengandalkan belanja atau anggaran pemerintah semata.

Menurut Raden, jika Indonesia hanya mengandalkan satu mesin untuk tumbuh, yakni pemerintah semata, maka pertumbuhannya terbatas. Pasalnya, pasar akan bergerak pasif. Kondisi ini berisiko tidak berkelanjutan.


"Bergantung pada swasta, itu mesin yang lebih besar, jadi adalah salah kalau abaikan swasta, sebagai mesin yang lebih besar," kata Raden dalam SMBC Indonesia Economic Forum 2026, yang diadakan di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (19/6/2026).

Raden yang juga menjabat sebagai Tim Asistensi Menko Perekonomian menilai pemerintah seharusnya berfungsi sebagai katalis untuk mendukung swasta bekerja dalam mendorong perekonomian Indonesia. Kondisi saat ini pun memungkinkan karena anggaran pemerintah terbatas, swasta sehat, sektor perbankan dan keuangan sehat.

Raden menegaskan kondisi ini berbeda dengan kondisi saat krisis keuangan 1998, di mana sektor swasta hancur lebur.

"Sekarang sebetulnya cukup kuat, pemerintah oke, tapi mereka terbatas, jadi saran saya pemerintah jadi katalis. Untuk jadi katalis adalah deregulasi, address ease doing business, (mendorong) produktivitas, berfungsi lah pemerintah sebagai katalis," paparnya.

Pemikiran Raden ini sejalan dengan rencana besar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Purbaya sebelumnya membeberkan kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia agar bisa mencapai 6%.

Untuk mencapai ini, dia menilai sektor swasta harus memimpin. Ini telah diukur dirinya dari pengalaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Joko Widodo. Dia menceritakan di era Presiden SBY, ekonomi RI bisa tumbuh rerata 6%. Kondisi ini bisa dicapai karena sektor swasta berkontribusi besar pada ekonomi.

Di era Presiden Jokowi, hal ini tidak terjadi karena ekonomi didorong oleh pemerintah. Makanya pertumbuhan ekonomi hanya rata-rata di bawah 5%.

"Ini sudah berdasarkan pengalaman selama ini. Kalau saya balikan, saya lihat saja zamannya Pak SBY 6% private sector. Zaman Jokowi 5%, kalau kita gabungkan gimana? pasti di atas itu" ungkapmya di DPR, dikutip Selasa (19/65/2026).

Dia yakin jika private sector atau sektor swasta dibiarkan bergerak, pertumbuhan 6% bisa tercapai meskipun tidak instan. Dia pun menilai setiap agen ekonomi, sektor swasta, memiliki otak sendiri.

"Pemerintah tidak bisa mengontrol agen ekonomi berjalan tapi saya ciptakan kondisi di mana mereka berpikir, berjalan, bisa tumbuh, bisa berbisnis dengan suasana, situasi yang ada," ujarnya.

Jika itu sudah berjalan, program-program investasi yang lain bisa didorong.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Investasi dan Swasta Jadi Kunci Target Pertumbuhan Ekonomi 8%