MARKET DATA

Belanja Pemerintah Tembus Rp 493 T dalam 2 Bulan, Kok Bisa?

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
12 March 2026 12:05
Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Febrio Kacaribu saat konferensi pers APBN KITA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (23/2/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Febrio Kacaribu saat konferensi pers APBN KITA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (23/2/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah telah menggelontorkan Rp 493,8 triliun untuk belanja pemerintah sepanjang tahun hingga Februari 2026. Jumlah tersebut mencapai 12,8% terhadap keseluruhan APBN atau lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, Rp 348,1 triliun hanya 9,6% terhadap APBN 2025.

Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Febrio N. Kacaribu menjelaskan, lonjakan belanja negara pada awal tahun merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat realisasi belanja agar lebih merata sepanjang tahun.

Febrio mengatakan, hingga akhir Februari saja pertumbuhan belanja negara tercatat sudah mencapai 41,9% secara tahunan. Menurutnya, hal ini juga dipengaruhi oleh basis perbandingan yang relatif rendah pada tahun lalu.

"Kalau untuk kuartal 1 tadi, kita tahu bahwa belanja kita untuk kuartal 1 akan sangat kuat. Tadi per akhir Februari saja itu pertumbuhannya di atas 40 persen. Kenapa? Karena memang tahun lalu juga bisa dianggap low base," ujar Febrio dalam konferensi pers APBN KiTa, dikutip Kamis (12/3/2026).

Selain itu, Febrio menjelaskan bahwa pemerintah sengaja mengubah strategi pengelolaan belanja negara agar tidak menumpuk pada akhir tahun seperti yang sering terjadi sebelumnya.

Menurutnya, pola belanja antara kuartal I hingga kuartal IV akan diratakan agar dampaknya terhadap perekonomian konsisten sepanjang tahun.

"Dengan demikian dibandingkan biasanya memang terjadi akselerasi belanja. Makanya defisitnya di bulan Februari itu 0,5%dari PDB, itu karena memang strategi kita mengelola APBN yang memang sudah berubah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah dinilai memiliki ruang fiskal karena penerimaan negara yang tumbuh kuat, terutama dari pajak yang meningkat 30,4% menjadi Rp 245,1 triliun hingga Februari 2026 dibandingkan tahun sebelumnya Rp 188 triliun.

Dengan strategi tersebut, Kementerian Keuangan menargetkan pertumbuhan ekonomi dapat mempertahankan momentum kuartal keempat 2025 sebesar 5,39% atau meningkat hingga 5,5% pada kuartal pertama 2026.

"Kita harapkan akan cukup kuat di kuartal 1, melanjutkan momentum dari kuartal 4 2025 kemarin yang 5,39. Jadi dengan 5,39% nanti kita harapkan ini bisa berada di 5,5% atau lebih di kuartal 1 2026," ujarnya.

(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article APBN Ngegas Demi Ekonomi 6% di 2026, Tak Ada Cerita Anggaran Menumpuk!


Most Popular
Features