Bukannya Happy, Eksportir Ini Malah Was-Was saat Dolar AS Meledak
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.600 per dolar AS mulai memberi tekanan terhadap industri mebel dan kerajinan nasional. Kenaikan kurs ternyata tidak otomatis menguntungkan eksportir karena industri masih bergantung pada berbagai komponen impor yang dibeli menggunakan dolar AS.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan lonjakan dolar AS memang secara teori bisa meningkatkan nilai penerimaan eksportir ketika dikonversi ke rupiah. Namun kondisi di lapangan dinilai jauh lebih kompleks.
"Pelemahan rupiah yang sudah menembus kisaran Rp17.600 per US$ tentu menjadi perhatian serius bagi industri mebel dan kerajinan nasional. Secara teori memang ada keuntungan jangka pendek bagi eksportir karena penerimaan berbasis dolar terlihat meningkat ketika dikonversi ke rupiah. Namun dalam praktiknya, dampaknya tidak sesederhana itu," ujar Abdul Sobur kepada CNBC Indonesia, Selasa (19/5/2026).
Tekanan biaya produksi tetap besar karena industri mebel nasional masih menggunakan berbagai komponen impor untuk mendukung proses produksi. Kenaikan kurs akhirnya ikut membebani ongkos usaha dan memangkas margin pelaku industri.
"Industri mebel Indonesia masih memiliki ketergantungan pada berbagai komponen impor seperti hardware, chemical finishing, mesin produksi, sparepart, hingga beberapa material penunjang yang sebagian besar tetap menggunakan dolar AS. Akibatnya, kenaikan kurs justru ikut menaikkan biaya produksi dan menekan margin industri," katanya.
Di saat yang sama, kondisi ekonomi global membuat permintaan pasar ekspor belum sepenuhnya pulih. Banyak pembeli luar negeri disebut masih cenderung menahan ekspansi pembelian sehingga situasi kurs tinggi belum tentu berdampak positif terhadap penjualan.
"Karena itu HIMKI melihat momentum ini harus dijadikan alarm penting untuk memperkuat daya saing industri nasional secara fundamental, bukan sekadar menikmati windfall jangka pendek akibat kurs," katanya.
Indonesia sebenarnya memiliki modal besar karena kaya akan sumber daya kayu dan bahan baku. Namun industri pendukung di dalam negeri dinilai masih perlu diperkuat agar nilai tambah tidak terus bergantung pada impor, diantaranya memperkuat industrialisasi lanjutannya, termasuk pengolahan bahan baku setengah jadi, komponen, engineered wood, hingga penguatan mesin dan supporting industry di dalam negeri.
Di tengah tekanan kurs, ketahanan industri tidak bisa hanya bergantung pada pergerakan nilai tukar dolar AS. Namun daya saing industri lebih ditentukan oleh ekosistem industri secara keseluruhan.
"Karena pada akhirnya, daya tahan industri tidak bisa hanya bergantung pada kurs dolar. Yang lebih penting adalah kemampuan membangun ekosistem industri yang kuat, efisien, dan kompetitif secara global," ujar Abdul Sobur.
(fys/wur) Add
source on Google