MARKET DATA

Gubernur BI Sebut Nilai Tukar Rupiah Akhir Tahun Bisa Rp 16.500/US$

Emir Yanwardhana,  CNBC Indonesia
18 May 2026 16:44
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (18/5/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (18/5/2026). (Tangkapan Layar Youtube/TVR Parlemen)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini pergerakan rupiah pada akhir 2026 bisa mencapai rerata Rp 16.500 per dolar AS dengan rentang di kisaran Rp 16.200 - Rp 16.800 per dolar AS. Hal ini diungkapkan Perry Warjiyo dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (18/5/2026).

Perry menjelaskan, ini karena Rp 16.800/US$ merupakan batas atas dari nilai fundamental kurs yang telah BI hitung sejak penyusunan APBN 2026 pada tahun lalu. Adapun batas bawahnya Rp 16.200/US$. Dia yakin BI bisa memenuhi batasan tersebut.

"Nilai fundamentalnya berapa? average of the year Rp 16.500, kisaran bawahnya Rp 16.200 kisaran atasnya Rp 16.800," kata Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Adapun, menurut Perry, rerata nilai tukar rupiah hingga hari ini masih berada di level Rp 16.900/US$ secara tahun berjalan (year to date/ytd). Sejalan dengan ini, Perry meyakini nilai tukar rupiah akan kembali menguat terhadap dolar AS, terutama pada periode Juli dan Agustus 2026.

"Juli dan Agustus rupiah akan menguat," ungkapnya.

Adapun, pernyataan ini disampaikan Perry saat merespons permintaan Komisi XI DPR RI. DPR meminta BI untuk berupaya membalikkan nilai tukar rupiah mendekati level Rp 16.500 per dolar AS. Besaran ini sesuai dengan asumsi makro dalam APBN 2026. Adapun, permintaan ini disuarakan oleh Ketua Komisi XI DPR RI M.Misbakhun.

"Nah kita meminta karena ini kita menyepakati seperti kata Pak Gubernur BI bahwa tadi ditetapkan di Rp 16.500 (per dolar AS), tolong dikembalikan ke arah mendekati sana," ujar Misbakhun.

Hal ini beralasan karena jika rupiah bergerak jauh di atas level asumsinya, maka stabilisasi nilai tukar akan sulit. Sementara itu, transmisi pelemahan nilai tukar akan mempengaruhi berbagai aspek di perekonomian masyarakat, a.l. inflasi, pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.

Adapun, nilai tukar rupiah saat ini mengalami pelemahan. Merujuk data Refinitiv, rupiah pada pukul 15.00 WIB melemah 1,03% ke level Rp17.640 per dolar AS. Tekanan tersebut lebih dalam dibandingkan posisi pembukaan pagi ini, ketika rupiah dibuka melemah 0,97% di posisi Rp17.630 per dolar AS.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bos BI Pede Rupiah Perkasa Lagi Juli-Agustus 2026, Ini Alasannya!


Most Popular
Features