Perusahaan Rusia Lanjut Garap Proyek Migas di Natuna, Siapa Mitranya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa perusahaan migas asal Rusia, yakni Zarubezhneft akan tetap melanjutkan investasinya di Indonesia, khususnya di Blok Tuna.
Namun sebaliknya, Harbour Energy yang merupakan mitra sekaligus operator dari Wilayah Kerja yang berada di Laut Natuna Utara tersebut justru memutuskan mundur dari proyek tersebut.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkapkan rencana Zarubezhneft untuk melanjutkan investasinya di Blok Tuna masih dalam proses. Namun yang pasti, pengganti Harbour Energy di blok migas tersebut sudah ada.
"Kita tunggu ya, kita tunggu aja. Bukan Pertamina," kata Laode ditemui di Kementerian ESDM, Senin (18/6/2026).
Sebelumnya, Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus menjelaskan bahwa keputusan hengkangnya Harbour tersebut didorong oleh kebijakan sanksi dari Amerika Serikat terhadap perusahaan asal Rusia.
"Jadi untuk yang POD 1 Tuna ini kan memang ada posisi dari KKKS Harbor sebelumnya bahwa dia gak bisa lanjut kalau ada sanction US gitu ya di mitra sebelahnya. Dalam konteks tersebut Harbor kelihatannya juga punya selera investasi lainnya di Laut Utara begitu," ujarnya di Kantor SKK Migas, Senin (21/7/2025).
Meski demikian, pihaknya tetap mengupayakan agar proyek Blok Tuna dapat berproduksi sesuai jadwal yang telah ditentu. Oleh sebab itu, SKK Migas tengah mencari operator baru pengganti Harbour untuk melanjutkan tahapan Front End Engineering Design (FEED) guna mengejar target produksi.
Sebagaimana diketahui, Blok Tuna sendiri dioperatori oleh perusahaan asal Inggris Harbour Energy melalui Premier Oil Tuna B.V. Sementara Zarubezhneft sendiri merupakan perusahaan migas milik pemerintah Rusia yang memegang hak partisipasi sebesar 50% di Blok Tuna melalui anak usahanya, ZN Asia Ltd.
(ven/arj) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]