Dolar Tembus Rp17.600, Cek Segini Impor BBM-LPG RI

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 18/05/2026 12:38 WIB
Foto: CNBC Indonesia TV
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang rupiah terhadap Dolar Amerika makin melemah. Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda pada perdagangan Senin (18/5/2026) dibuka di zona merah. Rupiah melemah tajam hingga 0,97% dan terdepresiasi ke level Rp17.630/US$.

Pada Rabu (13/5/2026) Rupiah sempat ditutup menguat di level Rp 17.460/US$ sebelum libur panjang.

Salah satu yang terdampak dari pelemahan Rupiah adalah kebutuhan impor di Indonesia. Saat ini, Indonesia sendiri tercatat masih bergantung pada impor energi khususnya sektor minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM) jadi, dan liquefied petroleum gas (LPG).


Tingginya nilai tukar Rupiah terhadapĀ dolas AS memicu inflasi nilai impor, potensi defisit neraca perdagangan, hingga penurunan daya beli.

Lantas berapa data impor minyak mentah, BBM, hingga LPG dalam negeri?

Impor Minyak

Mengutip data Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2024, produksi minyak mentah Indonesia terus mengalami tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2024, produksi minyak tercatat sebesar 212,33 juta barel atau setara sekitar 581 ribu barel per hari. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang masih berada di atas level tersebut.

Sementara itu, ekspor minyak mentah Indonesia relatif kecil. Sepanjang 2024, ekspor tercatat hanya mencapai 27,2 juta barel. Adapun, impor minyak mentah mencapai 127,79 juta barel jauh lebih besar dibandingkan ekspor.

Data menunjukkan adanya tren peningkatan impor dalam lima tahun terakhir. Pada 2020, impor minyak mentah tercatat sebesar 79,68 juta barel. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 104,40 juta barel pada 2021, naik lagi menjadi 114,52 juta barel pada 2022, dan mencapai 132,38 juta barel pada 2023.

Impor BBM bensin & solar

Mengacu data Kementerian ESDM per 1 April 2026 sejauh ini, impor BBM jenis Bensin Indonesia terbesar masih berasal dari Singapura dengan presentase mencapai 64,23%. Lalu Malaysia dengan poris 27,18%. Sementara itu, kontribusi negara lain relatif kecil. Antara lain Oman 5,55%, Uni Emirat Arab 3,03%.

Adapun 3 negara utama sumber impor Solar Indonesia hingga April 2026 berasal dari Singapura dengan volume 58,56%, Malaysia dengan volume 36,56%, dan Taiwan dengan volume 4,88%.

Impor LPG

Hingga April 2026, impor LPG terbesar untuk RI didatangkan dari Amerika Serikat (AS) dengan volume 68,91%, dari Uni Emirat Arab dengan volume 11,83%, dan Arab Saudi dengan volume 7,36% dari total impor yang dilakukan.

Sisanya, Indonesia mengimpor LPG dari Qatar, Australia, Kuwait dan China.

"Dari grafik yang kami sampaikan terlihat bahwa produksi dalam negeri masih jauh di bawah kebutuhan sehingga import LPG tetap mendominasi pasokan nasional," jelas Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam dalam RDP bersama Komisi XII DPR, Kamis (9/4/2026).

Untuk menekan porsi impor, pemerintah juga melakukan pergeseran bahan baku nafta pada kilang domestik seperti RDMP Balikpapan untuk memperkaya produk LPG.

"Dengan seluruh langkah strategis mitigasi yang telah kami lakukan, dapat kami tegaskan bahwa pasokan BBM dan LPG nasional saat ini dalam kondisi aman," tandasnya.


(ven/ven) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sambut Awal Pekan, Rupiah Sentuh Level Rp17.600 per Dolar AS