Dolar Tembus Rp16.860, Pengusaha Bunyikan Alarm-Ingatkan Ancaman Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan rupiah yang menembus level Rp16.860 per dolar AS mulai memantik kewaspadaan di kalangan dunia usaha. Tekanan nilai tukar ini dinilai membawa konsekuensi langsung terhadap struktur biaya industri, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor.
"Bagi pengusaha ya tentu ini akan menjadi warning ya, terutama bagi pengusaha-pengusaha atau industri-industri yang memang bahan bakunya itu masih berorientasi bahan baku impor, karena kalau bahan baku impor itu kan otomatis pakai dolar," kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah Sarman Simanjorang kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/1/2026).
Risiko terbesar muncul bila penguatan dolar berlangsung lebih lama dari perkiraan. Dalam kondisi seperti itu, dunia usaha tidak punya banyak ruang untuk menyerap kenaikan biaya.
Sebagai informasi, pada perdagangan hari ini, Rabu (14/1/2025) pukul 11.37 WIB, terpantau kurs berada di Rp16.860. Setelah sempat sentuh level tertinggi di Rp16.872 pada 10.06 WIB, demikian mengutip Refinitiv.
"Nah, kalau misalnya katakanlah penguatan dolar ini akan lebih lama, tentu ini akan berdampak kepada biaya produksi. Kalau itu berkepanjangan, tentu kalau biaya produksi naik akibat daripada dolar, otomatis ada penyesuaian harga di konsumen. Nah, tentu nanti juga ini akan menurunkan daya beli masyarakat kita dan itu bisa mendorong inflasi dalam hal ini," kata Sarman.
Faktor eksternal menjadi pemicu utama gejolak nilai tukar di awal tahun ini. Ketidakpastian global membuat arus modal dan sentimen pasar bergerak sangat cepat dan sulit diprediksi.
"Nah, jadi mudah-mudahan penguatan dolar ini hanya bersifat fluktuatif, temporer, karena ini juga kita lihat bukan hanya masalah ekonomi dalam negeri, tapi geopolitik di awal tahun juga sangat-sangat memanas. Karena kita tahu insiden misalnya antara Amerika dengan Venezuela, kemudian juga rencana Trump juga untuk ambil alih wilayah yang merupakan bagian daripada Denmark Greenland," sebut Sarman.
Ia menambahkan, eskalasi konflik di sejumlah kawasan strategis ikut memperkeruh kondisi. Ketegangan geopolitik tersebut menciptakan tekanan berlapis bagi perekonomian global, termasuk Indonesia.
"Situasi memanas juga dengan Iran, Israel. Jadi artinya ini sangat mempengaruhi dinamika ekonomi global dan tentu akan berdampak terhadap berbagai ekonomi masing-masing negara termasuk kita dalam hal ini," katanya.
Meski demikian, pelaku usaha masih berharap gejolak ini tidak berlangsung lama. Pergerakan dolar yang sempat naik-turun memberi sinyal bahwa volatilitas masih mendominasi pasar.
"Nah, kita doakan mudah-mudahan bahwa penguatan dolar ini hanya bersifat fluktuatif, artinya tidak berkepanjangan karena kita lihat juga kemarin juga sebenarnya juga fluktuatif dalam hal ini," sebut Sarman.
Di sisi lain, peran pemerintah dinilai krusial untuk meredam tekanan lanjutan. Langkah kebijakan yang tepat diharapkan mampu menenangkan pasar dan menjaga stabilitas nilai tukar.
"Jadi kita doakan pemerintah bisa mengambil langkah-langkah persuasif sehingga kita harapkan bahwa penguatan dolar ini tidak berkepanjangan, bahkan nanti bisa di level yang sesuai dengan harapan kita, begitu," ujarnya.
[Gambas:Video CNBC]