Masuk Top 100 Pemimpin Bisnis Perempuan, Ini Harapan Co-Founder Pluang
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam beberapa waktu terakhir, jumlah pemimpin perempuan terus mengalami peningkatan. Bersamaan dengan itu, para pemimpin perempuan juga terus berupaya meningkatkan kualitas kerjanya agar menjadi sosok yang tangguh, bijak, dan disiplin.
Seiring berkembangnya zaman, narasi soal perempuan kian meluas. Hal ini pun mendorong perempuan untuk bisa memiliki peran lebih dari satu.
JP Morgan Private Bank merilis daftar 100 pemimpin bisnis perempuan di Asia Pasifik. Co-Founder Pluang, Claudia Kolonas turut masuk ke dalam Top 100 Asia-Pacific Women-Powered, High-Growth Businesses versi JP Morgan sebagai pemimpin bisnis perempuan di sektor fintech.
Claudia menyampaikan harapannya tentang pemimpin bisnis perempuan. Menurutnya, Indonesia butuh lebih banyak pemimpin perempuan di sektor teknologi.
"Dari 100 nama pemimpin perempuan ini, saya berharap lebih banyak lagi sosok women in tech yang bisa masuk di daftar ini. Saya percaya inovasi teknologi mampu memberikan dampak jangka panjang untuk pendalaman sektor keuangan. Di Pluang, kami membuat akses investasi yang terjangkau dan memperluas pilihan aset investasi dengan tujuan untuk membuka semakin banyak kesempatan masyarakat Indonesia mewujudkan kemerdekaan finansial di masa depan," ungkap dia, dikutip Rabu (29/4/2026).
Sebagai informasi, daftar nama pemimpin perempuan yang dirilis JP Morgan Private Bank dikumpulkan dan disusun berdasarkan komponen pendapatan perusahaan, total karyawan, total jumlah pendanaan, hingga kepercayaan investor dan industri terhadap perusahaan.
Perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam daftar ini beroperasi secara aktif di 12 pasar Asia Pasifik, meliputi Australia, Tiongkok, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan,Taiwan, Thailand, dan Vietnam.
Dari lima negara yang memiliki bisnis yang dirintis oleh perempuan, Indonesia termasuk negara yang memiliki bisnis dengan angka pendanaan paling tinggi, yakni sebesar US$ 1,4 Miliar. Angka ini melampaui Korea Selatan (US$ 1,3Miliar) dan Hong Kong (US$ 1,2 Miliar).
Menurut estimasi JP Morgan, terdapat potensi perluasan kesempatan kerja hingga lebih dari 74 juta pekerjaan baru apabila perempuan memulai bisnisnya di level yang sama dengan laki-laki.
"Produktivitas bisnis yang dirintis oleh perempuan perlu didukung lewat ekosistem yang suportif. Hal ini menjadi tantangan bagi seorang woman in tech dalam bisnis startup dan finansial yang didominasi oleh pria. Memiliki tim dengan latar belakang beragam juga menjadi salah satu 'nilai lebih' yang mampu membawa berbagai pandangan bisnis dan inovasi di Pluang," lanjut Claudia.
Asal tahu saja, Claudia Kolonas adalah lulusan MBA Harvard yang memulai karier di bidang agribisnis keluarga sebelum menemukan passion di dunia keuangan dan bergabung dengan Celebes Capital.
Awalnya, Claudia menempuh studi Biologi Molekuler di UCLA dengan beasiswa penelitian vaksin, kemudian ia sempat mempertimbangkan meraih gelar PhD sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Di sana, Claudia berperan dalam berbagai proyek keuangan besar, termasuk joint venture Manajemen Aset UOB dan beberapa exit strategis.
Di Harvard, Claudia turut bertemu Richard yang di kemudian hari menjadi suami sekaligus Co-Founder Pluang.
Sebagai Co-Founder Pluang, Claudia telah berkontribusi besar terhadap kesuksesan Pluang sebagai salah satu platfrom penyedia produk-produk inovasi. Belum lama ini, Pluang meluncurkan produk yang telah cukup lama dinantikan, yakni saham Indonesia.
Langkah ini memposisikan Pluang sebagai satu-satunya wealth-tech di Indonesia yang mengintegrasikan akses langsung ke lebih dari 950 saham Bursa Efek Indoensia (BEI), serta saham Amerika Serikat (AS), aset kripto, emas digital, crypto futures, options, dan reksa dana dalam satu ekosistem tunggal yang terintegrasi.
Claudia bilang, inovasi terbaru yang dilakukan Pluang tidak hanya menambah akses diversifikasi, melainkan juga membangun infrastruktur yang mana 13 juta pengguna terdaftar dapat mengelola seluruh portofolionya dalam satu genggaman. Hal ini dipandang sebagai standar baru bagi Super-App investasi di Asia Tenggara.
"Selama ini ada jarak antara pasar modal domestik dan peluang diversifikasi global. Kami hadir untuk menutup kesenjangan (close the gap) itu," tandas dia.
source on Google [Gambas:Video CNBC]