Bukan Impor, Gas Baru Pengganti LPG Ini Berasal dari Dalam Bumi RI

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Rabu, 13/05/2026 14:55 WIB
Foto: Gaslink (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah kini sedang menyiapkan produk bahan bakar memasak baru sebagai sumber energi alternatif untuk menggantikan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Pasalnya, mayoritas pasokan LPG saat ini masih bergantung pada impor.

Di tengah kondisi ketidakpastian geopolitik dunia saat ini, ditambah dengan terganggunya rantai pasok energi global, membuat Indonesia harus memikirkan alternatif sumber energi dan tentunya mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari luar negeri.

Perlu diketahui, kebutuhan LPG dalam negeri mencapai 8,6 juta ton per tahun, tapi pemerintah hanya bisa memproduksi di dalam negeri 1,6-1,7 juta ton, artinya sisanya masih mengandalkan impor. Jika dihitung, porsi impor LPG dalam negeri bisa mencapai 80-84% dari kebutuhan dalam negeri.


Lantas, mengapa impor LPG RI harus sebesar itu? Bukan kah Indonesia memiliki sumber daya gas bumi yang besar?

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, kendala utama produksi LPG domestik terletak pada kandungan gas alam Indonesia yang minim kandungan C3 (propana) dan C4 (butana) sebagai bahan baku utama LPG.

Sebaliknya, cadangan gas bumi Indonesia lebih didominasi oleh jenis C1 (metana) dan C2 (etana) yang sangat melimpah dan tersebar di seluruh lapangan migas RI, namun lebih cocok dikonversi menjadi gas pipa atau gas alam terkompresi (Compressed Natural Gas/ CNG).

Dengan lebih besarnya kandungan C1 dan C2 di dalam migas RI, maka pemerintah kini memutuskan untuk mengembangkan gas ini menjadi CNG.

"Masalahnya adalah pertanyaan yang selalu saya dapat informasi kenapa kita tidak membuat LPG dalam negeri? Padahal kita gas melimpah. Gas kita nggak pernah impor lagi lho. Gas itu sudah semuanya industri dalam negeri. Yang kita bahkan kita ekspor 30% dari total lifting gas kita. Cuman kenapa LPG kita impor? Karena LPG itu bahan bakunya C3, C4... C3, C4 itu berbeda dengan kebanyakan gas kita, gas kita itu C1, C2. C3, C4 ini kecil, makanya kita membangun industri dalam negerinya kecil," jelas Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, Sabtu (2/4/2026).

Tak hanya nilai kandungan gas metana dan etana yang lebih besar, Bahlil menyebut, biaya produksi CNG ini bahkan bisa lebih murah 30%-40% dibandingkan LPG.

Dia menyebut, selama ini nilai belanja LPG nasional menyentuh angka Rp 137 triliun per tahun, di mana sebesar Rp 80-87 triliun di antaranya harus disubsidi oleh negara.

Oleh karena itu, menurutnya penting bagi negara untuk menggencarkan sumber energi alternatif yang berasal dari dalam negeri dan lebih murah.

"Jadi kita tidak melakukan impor, cost transportasinya saja sudah bisa meng-cover," ujarnya.

"Dan kalau ditanya apakah sudah perform untuk jalan atau tidak, pada skala yang besar sudah jalan. Di daerah-daerah Jawa kan sudah dipakai CNG. Hotel, restoran, kemudian MBG, dapur-dapur MBG sudah pakai itu," terangnya.

Di kesempatan berbeda, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa pemerintah tengah mematangkan pola distribusi, serta kesiapan infrastruktur di lapangan.

"Ditargetkan tahun ini bisa dikonsumsi masyarakat," ucapnya dalam acara diskusi energi yang digelar ASPEBINDO di Jakarta, dikutip Rabu (13/5/2026).

Menurut dia, rencana implementasi penggunaan gas bumi yang dimampatkan ini dipastikan tidak langsung menyasar seluruh wilayah Indonesia secara serentak, melainkan akan dilakukan secara bertahap.

Pada fase awal, penyaluran akan diprioritaskan untuk kota-kota besar di Pulau Jawa guna menguji efektivitas simulasi distribusi, sebelum diperluas ke daerah lainnya.

"Bertahap di kota-kota besar dulu di Jawa. Roadmap-nya adalah tentu kita ada karena ini belum diumumkan oleh Pak Menteri, tapi intinya ke depan kita akan mereduksi LPG kita, kita gantikan dengan CNG," jelas Laode.

Selain efisiensi devisa, pemerintah memastikan aspek keselamatan menjadi prioritas utama dengan menyiapkan teknologi tabung Tipe 4 berbahan komposit fiber yang diklaim lebih ringan dan kuat.

"Penelitian untuk kita menggunakan CNG ini sudah cukup lama dan ada dua komponen penting di bagian tabung dan valve ini yang membutuhkan teknologi yang akhirnya pada hari ini tuh sudah ditemukan dan sudah bisa diimplementasikan," tuturnya.

Saat ini, Kementerian ESDM sedang melakukan uji coba untuk penggunaan CNG dengan kapasitas yang lebih kecil atau 3 kilogram. Penggunaan CNG sejatinya sudah terlaksana untuk sektor transportasi, perhotelan hingga restoran dengan ukuran yang besar atau 12 kg hingga 20-an kg.

Spesifikasi CNG

Mengacu pada definisi dari Peraturan Presiden No. 64 Tahun 2012 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga Bahan Bakar Gas Untuk Transportasi Jalan, CNG merupakan gas yang bersumber dari gas bumi dengan unsur metana (C1).

Sedangkan LPG bila mengacu pada Peraturan Presiden No. 38 Tahun 2019, LPG adalah gas hidrokarbon yang dicairkan dengan tekanan agar lebih mudah disimpan, diangkut, dan digunakan. LPG umumnya terdiri dari gas propana (C3), butana (C4), atau campuran keduanya.

Melansir laman resmi PT PGN (PGAS), gas alam itu sendiri terdiri dari campuran unsur seperti hidrokarbon yang terdiri dari metana (C1), etana (C2), propana (C3), dan butana (C4). CNG sendiri terdiri dari 95% kadar metana.

Saking beragamnya unsur gas alam, pengolahan dan pemanfaatannya pun berbeda-beda. Gas alam bisa diolah menjadi LPG, jadi Liquefied Natural Gas (LNG), termasuk pula menjadi CNG.

Memahami perihal CNG juga kerapkali disertai dengan pemahaman terhadap LPG dan Liquefied Natural Gas (LNG). Namun, tentunya perlu dicatat bahwa CNG, LPG, dan LNG adalah tiga hal yang berbeda.

Perbedaan utama antara CNG, LPG, dan LNG terletak pada keadaan fisiknya dan tekanan penyimpanannya. CNG disimpan dalam bentuk gas pada tekanan tinggi, sementara LPG dalam bentuk cair pada tekanan dan suhu moderat. LNG, di sisi lain, diangkut dalam bentuk cair pada suhu sangat rendah.

Keuntungan

Melansir laman resmi PT PGN, CNG memiliki beberapa kelebihan dalam pemanfaatannya, beberapa di antaranya seperti:

1. Emisi Rendah: CNG menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar konvensional, membantu mengurangi polusi udara.

2. Harga yang Stabil: Harga CNG cenderung lebih stabil dibandingkan dengan bahan bakar fosil lainnya karena gas alam kurang tunduk pada fluktuasi pasar minyak.

3. Sumber Energi yang Berkelanjutan: CNG diperoleh dari sumber gas alam yang melimpah, menjadikannya opsi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Di samping itu, Asosiasi Perusahaan Liquefied & Compressed Natural Gas Indonesia (APLCNGI) sempat membeberkan sejumlah keunggulan penggunaan CNG sebagai alternatif pengganti LPG untuk kebutuhan masyarakat.

Ketua APLCNGI Dian Kuncoro menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki cadangan gas bumi yang jauh lebih melimpah dibandingkan dengan cadangan minyak bumi. Menurutnya, CNG menawarkan fleksibilitas distribusi karena mampu menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang sulit ditembus oleh jaringan pipa gas konvensional.

"Bicara bagaimana pemanfaatan gas bumi ini untuk rumah tangga salah satu yang efektif dan efisien yang sudah ada itu memang melalui klaster pipa. Dan itu bisa melayani untuk wilayah-wilayah yang jauh dari pipa," ujarnya dalam acara diskusi oleh ASPEBINDO, dikutip Kamis (7/5/2026).

Di samping itu, keunggulan lain dari sisi teknologi penyimpanan gas mulai beralih menggunakan material komposit atau karbon. Inovasi tabung CNG memiliki bobot yang jauh lebih ringan dan daya tahan yang lebih kuat dibandingkan dengan tabung besi Tipe 1 yang selama ini digunakan dalam industri gas.

Penggunaan CNG untuk sektor rumah tangga juga dapat dilakukan melalui model klasterisasi pipa yang sudah diimplementasikan di beberapa wilayah seperti Yogyakarta dan Sleman. Skema itu memungkinkan masyarakat menikmati aliran gas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada ketersediaan infrastruktur pipa transmisi nasional.

Lebih lanjut, penggunaan CNG juga memiliki keuntungan dari sisi keekonomian bisnis yang lebih stabil.

Kekurangan

Dari berbagai kelebihan CNG yang telah dijabarkan, gas jenis itu juga tak luput dari kekurangan. Melansir laman PT PGN, kekurangan CNG seperti:

  1. Infrastruktur Terbatas: Infrastruktur pengisian CNG masih terbatas di beberapa wilayah, membatasi aksesibilitasnya.
  2. Ruang Penyimpanan: CNG memerlukan ruang penyimpanan yang cukup besar, terutama untuk kendaraan bermotor, karena gas alam perlu dikompresi pada tekanan tinggi.


(wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pemerintah Uji Coba Pengganti LPG 3 Kg dengan CNG