Internasional

Ada Apa Netanyahu? Tiba-Tiba Sebut Israel Harus "Lepas" dari AS

sef, CNBC Indonesia
Selasa, 12/05/2026 15:40 WIB
Foto: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (via REUTERS/ILIA YEFIMOVICH)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berencana untuk "menghentikan" ketergantungan negaranya pada Amerika Serikat (AS). Ini khususnya terkait bantuan keuangan yang selama ini digelontorkan Washington ke Tel Aviv.

Perlu diketahui, Israel adalah penerima bantuan luar negeri AS terbesar sejak Perang Dunia II. Negeri Zionis menerima lebih dari US$300 miliar (sekitar Rp5,25 kuadriliun) dalam bentuk bantuan ekonomi dan militer dari AS sejak tahun 1948.


Berdasarkan perjanjian sepuluh tahun yang ditandatangani pada tahun 2016, AS berkomitmen memberikan bantuan militer sebesar US$38 miliar kepada Israel hingga tahun 2028, termasuk US$5 miliar untuk sistem pertahanan rudal Iron Dome. Secara keseluruhan, bantuan Amerika mencakup sekitar 16% dari anggaran militer negara tersebut.

Hal ini terungkap dalam sebuah wawancara dengan CBS' 60 Minutes yang ditayangkan pada hari Minggu. Kala itu Netanyahu ditanya apakah sudah waktunya bagi negara Yahudi itu untuk "memeriksa kembali dan mungkin mengatur ulang" hubungan keuangannya dengan Washington.

"Tentu saja. Saya telah mengatakan ini kepada Presiden Trump. Saya telah mengatakannya kepada rakyat kami sendiri. Mereka terkejut," jawabnya.

"Saya ingin mengurangi hingga nol dukungan keuangan Amerika, komponen keuangan dari kerja sama militer yang kita miliki," tambahnya menyatakan bahwa proses tersebut harus "dimulai sekarang" dan diselesaikan "dalam sepuluh tahun ke depan".

Di kesempatan yang sama, Netanyahu juga mencatat bahwa ia sangat menyadari menurunnya dukungan untuk Israel di AS. Sebuah jajak pendapat Pew baru-baru ini menunjukkan bahwa enam dari sepuluh orang Amerika memiliki pandangan yang sangat atau agak tidak menguntungkan terhadap Israel, naik tujuh poin persentase sejak tahun lalu dan hampir 20 poin sejak 2022.

Namun, ia secara tegas menolak anggapan bahwa perang di Gaza mungkin telah "berkontribusi pada kesan negatif terhadap Israel ini". Ia malah menyalahkan perubahan tersebut hampir sepenuhnya pada media sosial.

"Israel dikepung di lini media, di lini propaganda, dan kita belum berhasil dalam perang propaganda," katanya.

"Kita memiliki beberapa negara yang pada dasarnya memanipulasi media sosial dengan bot farm dengan alamat palsu, untuk mematahkan simpati Amerika terhadap Israel," klaimnya.

Sementara itu, pada bulan Maret, Senator AS Bernie Sanders mengajukan tiga resolusi yang berupaya memblokir penjualan senjata senilai hampir US$660 juta ke Israel. Ia beralasan tiga perempat Demokrat dan dua pertiga independen menentang Washington mengirimkan senjata ke negara tersebut.

Partai Demokrat adalah oposisi pemerintah saat ini. Presiden AS Donald Trump sen diri berasal dari Partai Republik.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Netanyahu Disebut Bakal Lengser Sebentar Lagi