Bos Otomotif Wanti-wanti Kelas Menengah Masih Berat Beli Mobil

Ferry Sandy, CNBC Indonesia
Senin, 11/05/2026 19:25 WIB
Foto: Sekretaris Jenderal GAIKINDO, Kukuh Kumara menyampaikan pemaparan dalam Energy Forum B50 Edition di Jakarta, Kamis (5/3/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemulihan pasar otomotif nasional ternyata belum sepenuhnya mencerminkan pulihnya daya beli masyarakat. Di balik lonjakan penjualan mobil April 2026, segmen kelas menengah disebut masih mengalami tekanan cukup besar.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan wholesales mobil nasional atau distribusi dari pabrikan ke Diler mencapai 80.776 unit pada April 2026. Nilai itu naik 55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.


Kenaikan tersebut terjadi setelah pasar otomotif sempat melambat pada Maret lalu akibat momentum Lebaran. Aktivitas pembelian masyarakat dan distribusi kendaraan sempat tertahan selama periode libur panjang.

Sekretaris Umum GAIKINDO Kukuh Kumara mengatakan kondisi pasar saat ini belum sepenuhnya sehat. Ia menilai konsumen kelas menengah masih cenderung menahan belanja kendaraan baru.

"Sementara kalau dari yang konvensional, yang kelas menengah kan masih tertekan ya," kata Kukuh kepada CNBC Indonesia, Senin (11/5/2026).

Tekanan terhadap kelas menengah membuat penjualan mobil berbahan bakar bensin belum mampu bangkit signifikan. Konsumen saat ini masih lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian besar.

Di sisi lain, pertumbuhan penjualan justru datang dari kelompok masyarakat yang sudah memiliki kendaraan sebelumnya. Konsumen ini dinilai masih memiliki kemampuan belanja di tengah ketidakpastian ekonomi.

"Jadi kembali lagi, yang pembelinya adalah orang-orang yang punya uang," katanya.

GAIKINDO mencatat sepanjang Januari-April 2026, total wholesales mobil nasional mencapai 289.787 unit atau tumbuh 12,5% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara retail sales mencapai 287.581 unit atau naik 6,9%.

Meski tren penjualan mulai bergerak naik, Kukuh mengatakan industri otomotif masih membutuhkan dorongan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat agar pasar benar-benar pulih.

"Jadi kalau itu pertumbuhannya di atas 5% itu ada positif, tapi kalau di 5% itu cenderung stagnan," ujarnya.

Industri otomotif akan lebih sehat apabila pertumbuhan ekonomi nasional bisa berada di atas 6% dan ditopang sektor riil yang kuat.

"Jadi perlu pertumbuhan di atas 5%, di atas kalau bisa sih 6% ya. Mudah-mudahan 6% nya juga 6% yang berkualitas juga kan, yang tumbuhnya itu didasari pada sektor-sektor riil gitu," kata Kukuh.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Penjualan Kendaraan Melesat - China Jadi Korban Perang