Mobil Baru Mendadak Laku Keras, Pabrikan Cemas Krisis Bahan Plastik

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Senin, 11/05/2026 19:10 WIB
Foto: Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran produk, tetapi juga panggung utama peluncuran kendaraan baru. Sejumlah merek telah menyiapkan model terbaru yang akan diperkenalkan selama pameran berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 5–15 Februari 2026. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri otomotif nasional masih dibayangi ancaman gangguan pasokan bahan baku plastik di tengah memanasnya situasi geopolitik global. Meski penjualan mobil mulai pulih, produsen kendaraan masih berhitung dengan risiko rantai pasok.

Penjualan mobil nasional pada April 2026 memang menunjukkan kenaikan signifikan. Data GAIKINDO mencatat wholesales mencapai 80.776 unit atau naik 55% secara tahunan.

Namun di balik pemulihan tersebut, produsen otomotif masih menghadapi tantangan di sektor pasokan komponen. Salah satunya terkait bahan baku plastik yang digunakan industri manufaktur kendaraan.


Sekretaris Umum GAIKINDO Kukuh Kumara mengatakan kondisi pasokan hingga kini belum sepenuhnya normal. Industri masih memanfaatkan stok yang dimiliki masing-masing pemasok.

"Mungkin ada pemasok-pemasoknya itu kan masih punya stok," kata Kukuh kepada CNBC Indonesia, Senin (11/5/2026).

Kondisi ke depan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global. Industri berharap ketegangan internasional segera mereda agar rantai suplai kembali normal.

"Mudah-mudahan geopolitik ini segera terselesaikan dan kemudian suplai kembali normal," ujarnya.

Untuk mengantisipasi gangguan pasokan, banyak produsen otomotif mulai menerapkan strategi multisourcing. Perusahaan mencari alternatif vendor agar produksi kendaraan tidak terganggu.

Selain mencari pemasok alternatif, sejumlah perusahaan juga masih mengandalkan stok cadangan bahan baku. Namun daya tahan stok tiap perusahaan berbeda-beda tergantung kapasitas masing-masing.

"Multi sourcing dan punya masih ada stok lah ya," ujarnya.

Kukuh memperkirakan rata-rata perusahaan memiliki buffer stok sekitar dua hingga tiga bulan. Namun kondisi itu tetap bergantung pada volume produksi dan kebutuhan tiap pabrikan.

"Itu biasanya mereka punya buffer sekitar 2-3 bulanan ya, tapi kan tergantung dari level masing-masing perusahaan stoknya seberapa," kata Kukuh.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tekan Harga Plastik, Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Impor LPG