MARKET DATA

Industri Otomotif Rebutan Chip dengan AI, Pasokan Makin Ketat

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
07 April 2026 13:40
Ilustrasi pabrik mobil di Jakarta. (CNBC indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Ilustrasi pabrik mobil di Jakarta. (CNBC indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan mendapatkan chip semikonduktor kembali menjadi tantangan bagi industri otomotif global. Kali ini, kompetitor utamanya datang dari sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang tengah berkembang pesat.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara, menyebut fenomena ini mulai terasa di tengah meningkatnya kebutuhan chip untuk teknologi AI. Kondisi saat ini memiliki kemiripan dengan krisis chip yang terjadi saat pandemi, namun dengan penyebab yang berbeda.

"Di samping plastik, bahan bakarnya naik, kemudian juga ada persaingan mengenai chip. Mirip dengan pada waktu pandemi, tapi chip-nya sekarang lari fokus ke AI," katanya kepada CNBC Indonesia, Selasa (7/4/2026).

Produsen chip global kini cenderung memprioritaskan sektor AI karena menawarkan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Hal ini membuat pasokan untuk industri otomotif menjadi semakin terbatas.

"Karena mungkin harganya lebih menarik kalau ke AI dibanding dengan yang konvensional untuk mobil," katanya.

Lonjakan kebutuhan AI yang masif turut mengubah arah distribusi produksi chip di pasar global. Akibatnya, industri otomotif harus bersaing lebih ketat untuk mendapatkan pasokan.

Kukuh mengakui, awal mula pergeseran ini tidak dapat dipastikan secara spesifik. Namun, dampaknya sudah mulai dirasakan oleh pelaku industri.

"Pastinya saya nggak tahu kapan mulainya. Tapi peningkatan kebutuhan AI ini juga berdampak terhadap chip," jelasnya.

Situasi ini menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi industri otomotif, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Keterbatasan pasokan chip berpotensi mengganggu produksi kendaraan secara global.

Di sisi lain, industri belum memiliki solusi cepat untuk mengatasi masalah ini. Proses relokasi atau diversifikasi pemasok chip dinilai tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat. Kukuh berharap kondisi ini tidak berlangsung lama agar rantai pasok kembali normal.

"Peningkatan kebutuhan AI ini berdampak terhadap chip. Mudah-mudahan ini cepat berlalu," tutupnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ledakan di Akhir Tahun 2025, Penjualan Mobil Desember Cetak Rekor


Most Popular
Features