Mencari Jalan Tengah Transisi EV di Sektor Pertambangan
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik yang berlangsung di Timur Tengah menyebabkan gangguan aktivitas perdagangan komoditas energi di Selat Hormuz, khususnya pada distribusi minyak mentah dunia. Hal ini pun menjadi sinyal bagi banyak negara, termasuk Indonesia, untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan beralih pada sumber energi baru dan terbarukan, dan berbasis baterai seperti electric vehicle (EV). Apalagi, peluang percepatan transisi menuju kendaraan listrik di Indonesia sangat terbuka, termasuk di sektor pertambangan.
Terlebih lagi, Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Kementerian ESDM Jisman P Hutajulu mengatakan transisi energi bersih memiliki berbagai tantangan sehingga membutuhkan sinergi dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan.
"Kemudian dibutuhkan reformasi regulasi, mobilisasi pembiayaan, hingga pemilihan teknologi serta sumber daya yang tepat," ungkap Jisman dalam EV Transition in Mining Industry Outlook 2026, dikutip Kamis (30/4/2026).
Selain kendaraan penumpang, penggunaan EV dalam operasional pertambangan juga tengah diupayakan, karena dinilai bisa mendukung efisiensi dan daya saing industri. Penggunaan EV di kawasan operasional tambang juga sekaligus menunjukkan komitmen sektor pertambangan dalam mendukung agenda transisi energi nasional.
"Dengan EV perusahaan tambang bisa lebih berkontribusi terhadap penciptaan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan," ungkapnya.
Penggunaan EV untuk operasional tambang juga menjadi momentum yang tepat di tengah gonjang-ganjing global, yang menghambat rantai pasok energi dunia. Namun Dewan Pengawas Indonesia Mining Association, Raden Sukhyar memandang pentingnya proses uji coba dalam penerapan elektrifikasi di industri pertambangan. Pasalnya, area operasional tambang di Indonesia memiliki medan dan lanskap yang berbeda-beda.
"Ada yang slope-nya datar, ada yang miring, sehingga diperlukan trial. Biasanya 6 bulan atau lebih dilakukan trial. Kalau yang kita lihat yang sudah permanen, tentu bukan hanya yang kita kenal truck di permukaan, tetapi juga kita ada juga sudah menggunakan elektrifikasi tambang-tambang bawah tanah," ujar dia.
Pada dasarnya, adopsi EV dapat memberikan manfaat berupa penghematan BBM hingga menekan emisi karbon. Dengan kata lain, penggunaan EV di industri tambang akan menurunkan pengaruh negatif terhadap lingkungan sekitar operasional.
Dari sisi pengusaha, Chief Operating Officer PT Borneo Indobara (BIB) Raden Utoro mengungkap keuntungan menggunakan Electric Vehicles(EV) di sektor tambang. Menurutnya, selain bisa meningkatkan produktivitas, penggunaan EV di wilayah pertambangan lebih efisiensi dibandingkan dengan kendaraan berbasis fosil.
"Regulasi masih menjadi masalah utama. Namun selama yang kami jalani, saat infrastruktur sudah disiapkan, EV itu tidak ada masalah mesin dan transmisi, hanya baterai yang harus dibersihkan sehingga maintenance cost juga berkurang dan produktivitas naik," jelas dia
Meski begitu, Utoro menjelaskan masih banyak pengusaha tambang belum beralih ke EV karena modal investasi awal yang harus dikeluarkan cukup besar dan performanya juga belum terbukti. Menurutnya pengusaha tentu saja harus berhitung soal nilai belanja modal (capital expenditure/ capex).
"Capex ini berkaitan dengan regulasi dan kepercayaan, sayangnya kepercayaan EV di sektor tambang belum 100%. Industri ini baru mulai bertumbuh dan secara finansial untuk pendanaan ke perbankan belum diterima seperti untuk kendaraan konvensional," rinci Utoro.
Padahal di Indonesia PT Gaya Makmur Tractors memiliki produk alat berat berbasis EV dengan jaminan baterai dan suku cadang yang Lengkap. Product Support Director PT Gaya Makmur Tractors, Surateman, menegaskan bahwa jaminan terhadap baterai menjadi salah satu aspek untuk memberikan rasa aman kepada pengguna.
Pasalnya muncul kekhawatiran terkait umur pakai baterai yang selama ini kerap dianggap sebagai komponen paling mahal dalam ekosistem alat berat listrik.
Di sisi lain, kesiapan suku cadang juga menjadi perhatian, terutama untuk memastikan operasional tidak terganggu dalam jangka panjang.
"Setiap unit baru datang ada 10 parameter yang harus kami penuhi, salah satunya adalah kecukupan daripada spare part. Dalam waktu 12.000 jam itu semua spare part yang kita perkirakan nanti akan memerlukan penggantian itu sudah kita siapin bersamaan dengan alat datang," jelas Surateman
Dengan cara tersebut, perusahaan mengantisipasi potensi gangguan operasional sekaligus menekan risiko biaya tak terduga yang sering menjadi kekhawatiran pengguna. Terkait kekhawatiran standar pengisian daya yang belum seragam, Surateman menyebut sistem yang ada saat ini sudah cukup fleksibel untuk digunakan lintas peralatan.
Presiden Direktur PT Gaya Makmur, Rachmansyah mengatakan bahwa ada benang merah yang sangat menarik industri EV dan tambang untuk menuju perubahan yang lebih baik.
"Adopsi alat berat berbasis EV bukan hanya inovasi tapi langkah strategis pengurangan emisi karbon terhadap praktik tambang berkelanjutan. Tantangan implementasi tidak mudah, namun dengan kolaborasi pemerintah dan pelaku industri kunci utama menjawab tantangan tersebut," pungkas dia.
Menurutnya, forum EV Transition in Mining Industry Outlook 2026 jadi awal konkret perubahan untuk industri hijau berkelanjutan. Sebagai informasi, acara ini didukung oleh GM Tractors dan GM Motors.
(rah/rah) Add
source on Google