Warga RI Bisa Bikin Solar Sendiri dari Kantong Kresek, Begini Caranya
Jakarta, CNBC Indonesia - Sampah plastik seperti kantong kresek dianggap tidak bernilai ketika sudah digunakan, namun ternyata bisa diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM). Bahkan hasilnya disebut bisa mendekati BBM jenis solar seperti Dexlite dengan nilai ekonomis.
Ketua Divisi Produksi Faspol 5.0 - Bank Sampah Banjarnegara (BSB), Endi Rudianto, menceritakan pengalamannya mengelola sampah plastik di BSB, dalam acara Media Lounge Discussion (MELODI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), secara daring, dikutip Sabtu (9/5/2026).
Endi menjelaskan bahwa ide ini berawal dari keprihatinan terhadap menumpuknya sampah plastik di lingkungan sekitar. Kemudian dia bersama tim mencoba mengolah limbah tersebut menjadi minyak bakar sederhana untuk kompor sumbu.
Sayangnya, pemerintah saat itu mulai gencar mempromosikan penggunaan kompor gas elpiji. Sehingga, secara perlahan kompor sumbu mulai ditinggalkan warga.
Tidak menyerah sampai disitu, pendiri komunitas BSB, Budi Trisno Aji, pada 2019 berhasil menemukan katalis atau zat aditif yang mampu memurnikan olahan sampah plastik menjadi bahan bakar diesel berkualitas tinggi. Endi menyebutnya teknologi fast pyrolysis 5.0 atau Faspol 5.0. Sedangkan BBM yang dihasilkan diberi nama Petasol.
"Sampah plastik yang menjadi bahan baku utama berasal dari kantong kresek yang secara ekonomi tidak ada nilainya. Kemudian dibakar sehingga menghasilkan cairan dan gas. Cairan atau minyak bakar tersebut kemudian di-treatment oleh katalis yang kami ciptakan, untuk kemudian dihasilkan Petasol," tutur Endi.
Menurutnya saat ini BSB memiliki mesin pengolah sampah dengan kapasitas 200 kilogram bahan baku sampah plastik yang dapat menghasilkan 170 hingga 180 liter Petasol.
"Kami tidak bisa memastikan 1 kilogram bahan baku dapat menghasilkan 1 liter Petasol. Sebagai gambaran, sampah kering bersih dapat menghasilkan 95 persen. Namun, untuk rata-rata sampah kering dan basah menghasilkan 70 hingga 80%," ujarnya.
Selama ini, Petasol yang dihasilkan BSB dimanfaatkan untuk mesin-mesin pertanian dan kendaraan bermotor warga sekitar.
Selain menciptakan Faspol 5.0, pihaknya telah membuat mesin pembakar sampah sederhana untuk dimanfaatkan bank sampah di tempat lain. Endi menyebutkan, sedikitnya sudah 50 tempat di wilayah Indonesia yang sudah memanfaatkan mesin pembakar sampah serta teknologi Faspol 5.0 yang dihasilkannya.
"Setiap kami mengirim mesin dan teknologi Faspol 5.0, kami lanjutkan dengan pelatihan bagi operatornya, untuk memastikan mesin dapat menghasilkan produk sesuai SOP yang ditetapkan," jelas Endi.
Untuk memastikan kualitasnya Petasol telah melalui berbagai pengujian di laboratorium BRIN, Lemigas, hingga Universitas Diponeggoro. Hasilnya menunjukan bahwa bahan bakar ini memenuhi standar setara solar B0.
Peneliti Ahli Utama BRIN Tri Martini, mengungkapkan dari sisi ekonomi produksi petasol cukup menjanjikan. Biaya produksi sekitar Rp 6.160 per liter dengan harga jual yang direkomendasikan Rp 9.700, sehingga menghasilkan marjin keuntungan besar.
"Dari hasil analisis break even point kami, investasi untuk kapasitas mesin 50-100 liter, estimasi kami dapat kembali dalam waktu 1,5 tahun. Selain itu, benefit cost ratio sudah di atas satu dengan revenue cost ratio di atas dua, yang artinya aktivitas ini menguntungkan dan layak untuk dikembangkan,"ungkap Tri.
Menurut Tri, pengembangan teknologi ini juga dinilai berpotensi mendorong kemandirian energi di pedesaan, terutama bagi petani dan nelayan. Jika diadopsi secara luas, inovas ini juga membantu mengurangi ketergantungan terhadap BBM konvensional sekaligus mengatasi persoalan sampah plastik di Indonesia.
(wur/wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]