Harga Minyak Melejit, Shell Cetak Laba Rp120,21 Triliun

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Jumat, 08/05/2026 12:50 WIB
Foto: REUTERS/Hollie Adams

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan energi global, Shell melaporkan lonjakan keuntungan di tengah kenaikan harga minyak dunia. Terutama yang dipicu memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Mengutip the New York Times, Jumat (8/5/2026) Shell mencatat laba disesuaikan sebesar US$6,92 miliar atau Rp120,21 triliun (asumsi kurs Rp17.371 per dolar AS) pada kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut naik 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Perusahaan menyebut capaian tersebut juga lebih dari dua kali lipat dibandingkan laba pada kuartal sebelumnya. "Hasil keuangan yang kuat ini terjadi di tengah gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar energi global," ujar Chief Executive Officer (CEO) Shell Wael Sawan dalam sebuah pernyataan, dikutip Jumat (8/5/2026).


Shell menyebut total produksi minyak dan gasnya turun 4% dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama akibat dampak konflik Timur Tengah terhadap operasional di Qatar.

Pada Maret lalu, perusahaan menyatakan serangan rudal telah mengurangi kapasitas ekspor gas alam milik QatarEnergy, termasuk fasilitas gas-to-liquids yang dioperasikan Shell.

"Ketika terjadi gangguan nyata seperti yang kami alami dari titik pasokan seperti Qatar, portofolio kami masih mampu merespons dan menciptakan nilai," ujar Wael Sawan.

Pada hari Kamis, harga minyak mentah Brent, patokan internasional, berada sedikit di bawah US$100 per barel, meningkat sekitar 37 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari. Harga minyak sempat diperdagangkan di atas US$126 per barel minggu lalu.

Guncangan minyak telah mendorong kenaikan biaya energi melalui harga yang lebih tinggi untuk produk-produk seperti diesel dan bahan bakar jet, mendorong maskapai penerbangan untuk mengurangi penerbangan dan layanan makanan ringan. Warga Amerika, yang menghabiskan lebih banyak uang untuk bensin dan tiket pesawat, sedang mempertimbangkan kembali rencana perjalanan musim panas mereka.

Shell bukanlah satu-satunya produsen minyak besar Eropa yang melaporkan peningkatan keuntungan. Pada bulan April, BP Inggris mengatakan bahwa mereka melipatgandakan keuntungannya pada kuartal pertama, menjadi US$3,2 miliar, dari kuartal sebelumnya, didorong oleh perdagangan minyak yang lebih baik dan harga minyak yang tinggi.

Dan perusahaan minyak Prancis TotalEnergies, yang melaporkan laba bersih triwulanan sebesar US$5,4 miliar, mengatakan akan menaikkan dividen dan menggandakan pembelian kembali sahamnya.

Lonjakan keuntungan tersebut kembali memicu seruan penerapan windfall tax atau pajak atas keuntungan berlebih perusahaan minyak, seperti yang pernah dilakukan ketika perusahaan energi menikmati kenaikan laba akibat melonjaknya harga energi pasca invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Minyak Tembus USD120, Konflik Global Memanas & Gejolak Politik Dunia