Jadi Energi Alternatif! Ini Kekurangan & Kelebihan CNG Dibanding LPG
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Pemerintah tengah mengkaji penyaluran gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk bahan bakar memasak pada konsumen rumah tangga.
Salah satu tujuan utamanya adalah untuk mengurangi porsi impor LPG untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, kebutuhan LPG dalam negeri mencapai 8,6 juta ton per tahun. Sekitar 1,6-1,7 juta ton dari kebutuhan tersebut bisa diproduksi di dalam negeri, namun sisanya masih mengandalkan impor. Jika dihitung, porsi impor LPG mencapai 80-84% dari kebutuhan domestik.
Bagai efek bola salju, tingginya porsi impor LPG dalam negeri berdampak pula pada tingginya subsidi yang harus dikocek negara untuk LPG 3 kg. Bahkan, pemerintah mencatat subsidi untuk LPG 3 kg per tahunnya sudah menyentuh angka Rp 87 triliun.
Berangkat dari situ, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan pemerintah sedang melakukan uji coba pengembangan CNG dalam bentuk tabung 3 kilo gram (kg) dan targetnya bisa dijalankan pada tahun 2026 ini juga.
Rencananya, CNG 3 kg akan diutamakan untuk diterapkan terutama di kota-kota besar di Pulau Jawa terlebih dahulu.
Nah, sebenarnya apa kelebihan dan kekurangan pemanfaatan CNG dibandingkan LPG?
Mengacu pada definisi dari Peraturan Presiden No. 64 Tahun 2012 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga Bahan Bakar Gas Untuk Transportasi Jalan, CNG merupakan gas yang bersumber dari gas bumi dengan unsur metana (C1).
Sedangkan LPG bila mengacu pada Peraturan Presiden No. 38 Tahun 2019, LPG adalah gas hidrokarbon yang dicairkan dengan tekanan agar lebih mudah disimpan, diangkut, dan digunakan. LPG umumnya terdiri dari gas propana (C3), butana (C4), atau campuran keduanya.
Melansir laman resmi PT PGN (PGAS), gas alam itu sendiri terdiri dari campuran unsur seperti hidrokarbon yang terdiri dari metana (C1), etana (C2), propana (C3), dan butana (C4). CNG sendiri terdiri dari 95% kadar metana.
Saking beragamnya unsur gas alam, pengolahan dan pemanfaatannya pun berbeda-beda. Gas alam bisa diolah menjadi LPG, jadi Liquefied Natural Gas (LNG), termasuk pula menjadi CNG.
Memahami perihal CNG juga kerapkali disertai dengan pemahaman terhadap LPG dan LNG. Namun, tentunya perlu dicatat bahwa CNG, LPG, dan LNG adalah tiga hal yang berbeda.
Perbedaan utama antara CNG, LPG, dan LNG terletak pada keadaan fisiknya dan tekanan penyimpanannya. CNG disimpan dalam bentuk gas pada tekanan tinggi, sementara LPG dalam bentuk cair pada tekanan dan suhu moderat. LNG, di sisi lain, diangkut dalam bentuk cair pada suhu sangat rendah.
Keuntungan
Melansir laman resmi PT PGN, CNG memiliki beberapa kelebihan dalam pemanfaatannya, beberapa di antaranya seperti:
Emisi Rendah: CNG menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar konvensional, membantu mengurangi polusi udara.
Harga yang Stabil: Harga CNG cenderung lebih stabil dibandingkan dengan bahan bakar fosil lainnya karena gas alam kurang tunduk pada fluktuasi pasar minyak.
Sumber Energi yang Berkelanjutan: CNG diperoleh dari sumber gas alam yang melimpah, menjadikannya opsi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Di samping itu, Asosiasi Perusahaan Liquefied & Compressed Natural Gas Indonesia (APLCNGI) sempat membeberkan sejumlah keunggulan penggunaan CNG sebagai alternatif pengganti LPG untuk kebutuhan masyarakat.
Ketua APLCNGI Dian Kuncoro menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki cadangan gas bumi yang jauh lebih melimpah dibandingkan dengan cadangan minyak bumi. Menurutnya, CNG menawarkan fleksibilitas distribusi karena mampu menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang sulit ditembus oleh jaringan pipa gas konvensional.
"Bicara bagaimana pemanfaatan gas bumi ini untuk rumah tangga salah satu yang efektif dan efisien yang sudah ada itu memang melalui klaster pipa. Dan itu bisa melayani untuk wilayah-wilayah yang jauh dari pipa," ujarnya dalam acara diskusi oleh ASPEBINDO, dikutip Kamis (7/5/2026).
Di samping itu, keunggulan lain dari sisi teknologi penyimpanan gas mulai beralih menggunakan material komposit atau karbon. Inovasi tabung CNG memiliki bobot yang jauh lebih ringan dan daya tahan yang lebih kuat dibandingkan dengan tabung besi Tipe 1 yang selama ini digunakan dalam industri gas.
Penggunaan CNG untuk sektor rumah tangga juga dapat dilakukan melalui model klasterisasi pipa yang sudah diimplementasikan di beberapa wilayah seperti Yogyakarta dan Sleman. Skema itu memungkinkan masyarakat menikmati aliran gas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada ketersediaan infrastruktur pipa transmisi nasional.
Lebih lanjut, penggunaan CNG juga memiliki keuntungan dari sisi keekonomian bisnis yang lebih stabil.
Kekurangan
Dari berbagai kelebihan CNG yang telah dijabarkan, gas jenis itu juga tak luput dari kekurangan. Melansir laman PT PGN, kekurangan CNG seperti:
Infrastruktur Terbatas: Infrastruktur pengisian CNG masih terbatas di beberapa wilayah, membatasi aksesibilitasnya.
Ruang Penyimpanan: CNG memerlukan ruang penyimpanan yang cukup besar, terutama untuk kendaraan bermotor, karena gas alam perlu dikompresi pada tekanan tinggi.
Potensi Risiko
Melansir penelitian dalam Journal of Safety Science and Resilience yang dirilis situs Science Direct pada September 2024 dengan judul "Compressed Natural Gas (CNG) as a fuel and the associated risks: A quantitative analysis in the scenario of a developing country", disebutkan bahwa CNG masih memiliki beberapa potensi risiko dalam penggunaannya.
Dari empat kategori potensi risiko yang diteliti, yakni risiko sistem/infrastruktur, kesalahan manusia (human error), risiko ekonomi, dan risiko lingkungan, risiko penggunaan CNG ternyata memang secara umum terbilang rendah.
Namun, penelitian menunjukkan desain stasiun pengisian CNG yang tidak aman bisa menjadi risiko yang signifikan dari kategori potensi risiko sistem/infrastruktur. Penelitian menunjukkan ini merupakan risiko dengan nilai tertinggi.
Merancang stasiun CNG merupakan proses yang mahal, dengan biaya antara $675.000 dan $1.000.000, tergantung pada ukuran dan aplikasinya, terutama di negara berkembang seperti Pakistan. Biaya ini termasuk biaya mesin dan instalasi.
Untuk menghemat biaya dan mencapai skala ekonomi, pemilik stasiun CNG sering kali mengabaikan komponen keselamatan penting, gagal memenuhi persyaratan keselamatan dasar, yang menyebabkan kecelakaan dan bencana.
Tak hanya itu, kualitas tabung juga menjadi hal penting dan berisiko tinggi bila diabaikan. Kualitas tabung CNG yang buruk secara signifikan berkontribusi terhadap risiko industri karena ancaman ledakan yang lebih tinggi, terutama karena kurangnya penegakan standar keselamatan dan prosedur kualitas.
Kedua, kategori risiko kesalahan manusia juga bisa menjadi hal yang harus diperhatikan. Penelitian ini menunjukkan, kesalahan manusia seperti merokok di area stasiun CNG juga hal yang menimbulkan risiko.
Ketiga, risiko ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian, risiko ekonomi terbukti lebih kecil dibandingkan risiko infrastruktur dan kesalahan manusia untuk CNG.
Salah satu pendorong utama risiko ekonomi adalah kekhawatiran konsumen akan ketidaktersediaan CNG. Temuan peneliti menunjukkan bahwa di antara sub-risiko ekonomi, ketidaktersediaan CNG mendapat skor tertinggi dalam penilaian risiko, diikuti oleh risiko "mogok kerja".
Terakhir, risiko lingkungan memiliki skor yang cukup signifikan di antara berbagai risiko, dengan dua sub-risiko spesifik yang dipertimbangkan. Skor risiko untuk produk sampingan beracun dari kebocoran gas alam sangat rendah, sedangkan risiko ledakan kebakaran karena sifatnya yang mudah terbakar relatif tinggi.
Skor risiko yang rendah mendukung teori bahwa CNG tidak beracun, artinya tidak berbahaya. Paparan manusia terhadap konsentrasi gas ini yang ringan dapat menyebabkan sakit kepala ringan atau gejala serupa. Tidak seperti bahan bakar cair lainnya, CNG tidak melepaskan racun udara dan aman bagi lingkungan.
Namun, karena berupa gas, CNG mudah terbakar dan mudah menyala jika konsentrasinya di udara berada dalam kisaran 5% hingga 15%.
Jika terjadi kebakaran, bahaya yang signifikan dapat ditimbulkan pada manusia, properti, dan lingkungan, yang membenarkan skor risiko tinggi yang diberikan pada bahaya ini.
Untuk mengurangi risiko ini, sangat penting untuk menerapkan langkah-langkah untuk melindungi tabung gas dari sumber api eksternal dan memasang komponen penting yang mencegah kebocoran gas.
Solusi untuk masalah pertama meliputi penerapan sistem pelapis, penggunaan pembungkus isolasi panas untuk melindungi tabung gas dari api, dan pemasangan sistem deteksi panas yang mengaktifkan pelepasan tekanan jarak jauh.
Untuk mengatasi masalah kedua, tabung gas harus dilengkapi dengan katup penutup di dalam kendaraan untuk mengisolasi sepenuhnya kebocoran gas apa pun. Selain itu, pemasangan katup aliran berlebih di dalam tabung gas dapat mematikan aliran gas jika melebihi kisaran operasional normal.
CNG Vs LPG
APLCNGI mencatat, terdapat berbagai perbedaan antara LPG dan CNG, berikut rangkumannya:
LPG
Komposisi utama: Campuran gas Propana (C3H8) dan Butana (C4H10)
Bentuk Penyimpanan: Disimpan dalam bentuk cair dengan tekanan rendah.
Wadah Penyimpanan: Menggunakan tabung gas konvensional ukuran 3 kg, 12 kg, dan 50 kg.
Penggunaan Utama: Fokus pada konsumsi rumah tangga, restoran, dan industri kecil.
Kelebihan: Sangat praktis karena mudah didistribusikan dan digunakan oleh masyarakat luas.
Kekurangan: Memiliki tingkat emisi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan gas alam.
CNG
Komposisi utama: Metana (CH4)
Bentuk Penyimpanan: Tetap dalam bentuk gas yang dimampatkan dengan tekanan sangat tinggi (200-250 bar).
Wadah Penyimpanan: Menggunakan tabung silinder khusus (untuk menahan tekanan tinggi).
Penggunaan Utama: Saat ini lebih banyak digunakan untuk transportasi (bus, mobil), industri, dan pembangkit listrik kecil.
Kelebihan: Lebih ramah lingkungan (emisi rendah) dan secara biaya lebih hemat.
Kekurangan: Distribusinya masih terbatas karena kendala teknis pada penyimpanan tekanan tinggi.
(pgr/pgr) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]