Pengusaha Ingatkan Bahaya Mengintai, Sentil Data Ramai Wisman ke RI

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 07/05/2026 19:30 WIB
Foto: Suasana turis asing di Bali. (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia dinilai belum cukup untuk menjamin kualitas pertumbuhan sektor pariwisata nasional. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menilai kenaikan angka kunjungan belum otomatis memberi dampak ekonomi nyata di daerah.

Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mengatakan pemerintah daerah memegang peran penting dalam memastikan sektor pariwisata benar-benar memberi manfaat terhadap ekonomi lokal.

"Kalau dia tidak berdampak, peningkatan wisman itu tidak ada artinya. Hanya tercatat sebagai kontribusi statistik saja," kata Maulana kepada CNBC Indonesia, Kamis (7/5/2026).


PHRI melihat selama ini fokus pemerintah masih terlalu besar pada angka kunjungan wisatawan. Padahal, indikator utama yang lebih penting adalah dampak terhadap okupansi hotel, serapan tenaga kerja, hingga penerimaan daerah.

Menurut Maulana, daerah yang mampu menciptakan destinasi berkualitas akan lebih mudah menarik wisatawan dengan pengeluaran tinggi. Namun kondisi itu tidak bisa tercapai tanpa pengawasan usaha dan tata kelola wilayah yang baik.

"Pemerintah itu satu, ada pusat dan ada daerah. Tapi jangan semua menyalahkan pusat terus. Pusat tidak mungkin mengurus 500 lebih kabupaten kota," ujarnya.

PHRI menilai kualitas destinasi wisata tidak hanya ditentukan promosi atau jumlah turis yang datang. Faktor lingkungan, tata ruang, legalitas usaha, hingga pengelolaan sampah juga menjadi penentu utama keberlanjutan sektor pariwisata.

Di sisi lain, pemerintah daerah disebut memiliki perangkat lengkap untuk melakukan pengawasan, mulai dari dinas pariwisata, tata ruang, lingkungan hidup hingga ATR/BPN di wilayah masing-masing.

"Kalau bicara quality destination, semua bisnis harus tertib sesuai aturan, tata ruangnya benar dan ada serapan tenaga kerja. Baru kita bisa bicara destinasi yang berkualitas," kata Maulana.

PHRI mengingatkan industri pariwisata kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain tekanan geopolitik global, pelaku usaha juga menghadapi kenaikan biaya operasional dan perlambatan pasar.

Menurut Maulana, kondisi tersebut akan semakin berat jika regulasi yang diterapkan justru menambah biaya usaha tanpa memberi solusi nyata di lapangan.

"Perizinan berusaha itu terus meningkat bebannya sementara pangsa pasar tidak signifikan naik, bahkan ada yang cenderung turun. Itu yang bahaya," ujarnya.

PHRI juga menilai tren kenaikan wisman beberapa waktu terakhir perlu dibaca secara hati-hati karena basis pembanding pascapandemi masih rendah. Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya fokus mengejar angka kunjungan semata.

"Wisman memang tumbuh tinggi karena base datanya rendah setelah pandemi. Jadi agak sulit kalau hanya melihat angka pertumbuhan tanpa melihat dampaknya," tutup Maulana.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Cara Bisnis Hospitality Gali Potensi Destinasi Sumatra-Sulawesi