Turis Asing Membludak tapi Kondisi Hotel di RI Tak Ramai, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia belum sepenuhnya dirasakan industri perhotelan. Di tengah kenaikan jumlah turis asing yang datang sepanjang kuartal I-2026, tingkat okupansi hotel justru belum menunjukkan perbaikan signifikan, khususnya di Bali.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisman pada Januari-Maret 2026 mencapai 3,43 juta kunjungan atau naik 8,62% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2020.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, menilai kenaikan jumlah turis asing memang nyata terjadi. Namun, dampaknya terhadap industri hotel belum merata di berbagai daerah.
"Kalau peningkatan wisman itu memang pencatatannya dari bandara dan memang ada peningkatan dibandingkan tahun 2020. Tapi targetnya kan sebenarnya harus bisa melampaui capaian tahun 2019 yang sekitar 16 juta wisman," kata Maulana kepada CNBC Indonesia.
Pergerakan wisman saat ini masih terkonsentrasi di beberapa wilayah utama seperti Bali, Jakarta, Kepulauan Riau, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Dari seluruh daerah tersebut, Bali masih menjadi tujuan terbesar wisatawan asing.
Namun, tingginya arus turis asing ke Bali belum otomatis mengerek tingkat hunian hotel. Maraknya akomodasi ilegal menjadi tantangan utama yang kini dihadapi industri perhotelan.
"Yang jadi tantangan di Bali itu peningkatan wisman tidak seiring dengan peningkatan okupansi hotel karena banyaknya akomodasi liar. Mereka berusaha tapi tidak memiliki izin yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan," ujarnya.
Lemahnya pengawasan izin usaha membuat banyak akomodasi nonformal tumbuh tanpa kontrol. Kondisi itu dinilai merugikan hotel resmi sekaligus mengurangi potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Setiap usaha itu harus punya kontribusi terhadap PAD dan serapan tenaga kerja. Kalau ada pembiaran terhadap yang liar-liar itu, ya kontribusinya semakin kecil. Wisman meningkat tapi tidak berkontribusi terhadap PAD," sebutnya.
Maulana mengatakan kondisi tersebut tercermin dari tingkat okupansi hotel yang masih berada di kisaran 50%. Pada kuartal I-2026, rata-rata okupansi hotel di Bali tercatat sekitar 54%, sedangkan pada Maret berada di level sekitar 56%.
"Kalau dibandingkan tahun lalu memang sedikit lebih tinggi. Tapi belum terlalu signifikan," katanya.
PHRI juga menyoroti data BPS yang menunjukkan rata-rata pengeluaran wisman mencapai US$ 1.345,61 atau sekitar Rp 23,27 juta per kunjungan selama kuartal I-2026. Pengeluaran terbesar berasal dari akomodasi, makan minum, hingga belanja cinderamata.
Meski demikian, industri hotel disebut belum merasakan lonjakan belanja tersebut secara langsung.
"Peningkatan spending wisman itu belum terasa di hotel. Karena hotel itu biasanya baru bisa menikmati kenaikan harga kamar secara signifikan kalau okupansinya sudah di atas 70%," ujar Maulana.
Ia menyebut hanya hotel-hotel tertentu yang memiliki daya tarik khusus yang saat ini bisa menikmati kenaikan kunjungan turis asing. Sementara secara umum, dampaknya belum merata untuk seluruh industri hotel di Bali.
"Banyak wisatawan memilih menginap di kos-kosan, rumah tinggal, atau akomodasi lain yang marak di sana. Itu yang akhirnya tidak berkontribusi terhadap bisnis hotel maupun PAD," katanya.
Sebelumnya, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono mengatakan kunjungan wisman selama tiga bulan tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2020. Khusus Maret 2026, jumlahnya mencapai 1.088.166 kunjungan atau menurun 6,17% secara bulanan dan meningkat 10,50% secara tahunan.
"Capaian kunjungan wisman pada Januari-Maret 2026 merupakan capaian tertinggi sejak 2020 yang lalu," kata Ateng dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).
Rata-rata wisman menghabiskan sekitar US$ 1.345,61 atau setara Rp 23,27 juta (kurs Rp 17.300) secara rata-rata pada triwulan I-2026 selama berada di Indonesia.
"Pada triwulan I-2026 proporsi pengeluaran terbesar wisman dialokasikan untuk belanja akomodasi 37,23%. Selanjutnya belanja wisman untuk makan dan minum sebesar 20,17%, serta untuk belanja dan cinderamata 11,04%," ujar Ateng.
(fys/wur) Add
source on Google