MARKET DATA
Internasional

AS-Israel Disebut Telah "Mencuri Hujan" di Timur Tengah

tfa,  CNBC Indonesia
07 May 2026 14:00
AS-Israel Disebut Telah "Mencuri Hujan" di Timur Tengah
Foto: Ilustrasi (AFP via Getty Images/-)

Jakarta, CNBC Indonesia - Teori konspirasi soal Amerika Serikat (AS) dan Israel disebut-sebut "mencuri awan" hingga menyebabkan kekeringan di Timur Tengah kembali viral di media sosial. Tuduhan ini mencuat di tengah meningkatnya konflik kawasan dan perang melawan Iran.

Anggota parlemen Irak Abdullah Al-Kaikhani menjadi salah satu tokoh yang memicu kontroversi tersebut. Dalam wawancara televisi, ia menuding AS dan Israel selama bertahun-tahun menggunakan pesawat untuk "mencuri awan" di Timur Tengah sehingga memicu kekeringan berkepanjangan.

Menurut dia, hujan kini kembali turun karena AS dan Israel sedang sibuk dengan konflik melawan Iran. "Senjata modifikasi atmosfer digunakan untuk menciptakan kondisi kekeringan secara sengaja," kata Al-Kaikhani dalam pernyataannya, seperti dikutip media lokal.

Pernyataan itu langsung memicu kehebohan di media sosial. Berbagai unggahan viral mengaitkan hujan deras di Iran, Irak, hingga Turki dengan terganggunya operasi dugaan "penyemaian awan" milik AS akibat perang dan pembatasan wilayah udara.

Beberapa akun bahkan mengklaim kekeringan panjang di Iran berakhir hanya beberapa hari setelah serangan terhadap pangkalan AS. Di Turki, teori serupa juga beredar setelah negara itu mengalami Februari terbasah dalam 66 tahun terakhir.

Namun, para ilmuwan dan otoritas meteorologi menepis keras tuduhan tersebut. Juru bicara Departemen Meteorologi Irak, Amer al-Jabri, mengatakan klaim soal "pencurian awan" tidak memiliki dasar ilmiah.

"Klaim ini tidak ilmiah dan tidak logis," ujar al-Jabri, seperti dikutip Jerusalem Post, Kamis (7/5/2026).

Ia menegaskan bahwa prakiraan cuaca Irak sebenarnya sudah memprediksi 2026 sebagai tahun dengan curah hujan tinggi sejak September tahun lalu, jauh sebelum konflik regional memanas. Para ilmuwan menjelaskan bahwa teknologi untuk mengendalikan cuaca secara penuh, apalagi "mencuri hujan" dari negara lain, hingga kini tidak ada.

Yang tersedia hanyalah teknologi penyemaian awan atau cloud seeding. Teknik ini dilakukan dengan menyebarkan partikel kimia seperti perak iodida ke awan yang sudah ada untuk membantu pembentukan hujan.

Namun, dampaknya sangat terbatas. Profesor Dr. Orhan Åžen dari Turki mengatakan penyemaian awan hanya bisa memengaruhi area lokal dengan radius sekitar 100 kilometer dan peningkatan curah hujan sekitar 15%-20%.

"Itu tidak bisa mengubah sistem cuaca skala besar yang datang dari Mediterania atau wilayah utara," jelasnya.

Senada, Profesor Diana Francis dari Universitas Khalifa menyebut penyemaian awan hanya memberi "dorongan kecil" pada awan yang sudah ada, bukan mengendalikan sistem cuaca global.

Sementara itu, pakar perubahan iklim dari Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kaveh Madani, mengatakan meningkatnya teori konspirasi ini dipicu kombinasi krisis air, cuaca ekstrem, dan rendahnya kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), kawasan Timur Tengah memang mengalami kenaikan suhu hampir dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global dalam beberapa dekade terakhir.

Akibatnya, pola hujan menjadi makin tidak menentu. Curah hujan total menurun, tetapi ketika hujan turun intensitasnya jauh lebih ekstrem sehingga meningkatkan risiko banjir bandang dan kekeringan.

Teori konspirasi soal manipulasi cuaca sebenarnya bukan hal baru di kawasan tersebut. Pada 2011, mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pernah menuduh negara-negara Barat menggunakan teknologi untuk memicu kekeringan di Iran.

Kemudian pada 2018, mantan pejabat keamanan Iran Saeed Jalili juga menuding Israel telah "mensterilkan awan" di Iran dan negara tetangga.

Meski begitu, komunitas ilmiah global menegaskan tidak ada bukti bahwa negara mana pun memiliki teknologi untuk mengendalikan cuaca regional secara masif atau mencuri hujan lintas negara.

(tfa/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article China Bela Iran, Sebut Punya Hak Lawan Perang AS-Israel


Most Popular
Features