Pesawat Jatuh Tewaskan 157 Orang, Boeing Disebut Lalai & Tak Aman
Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa penerbangan AS, Boeing, disebut "lalai" dalam kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX 8 Ethiopian Airlines pada tahun 2019. Sebelumnya kecelakaan itu menewaskan 157 orang dan menyebabkan munculnya 155 gugatan perdata yang diajukan keluarga korban tewas.
Hal ini dikatakan pengacara keluarga salah satu korban kepada pengadilan sipil federal Chicago pada hari Rabu. Menurutnya Boeing telah lalai dan kecelakaan sebenarnya bisa dicegah.
"Boeing lalai, pesawat Boeing tidak aman, Boeing menyebabkan kecelakaan dan kematian ini," kata Shanin Specter, pengacara keluarga Samya Stumo, seorang wanita Amerika berusia 24 tahun yang tewas dalam kecelakaan tersebut, dimuat AFP, dikutip Kamis (7/5/2026).
"Kecelakaan ini dapat dicegah, kecelakaan ini tidak masuk akal," tegasnya.
Sebenarnya, hampir semua gugatan perdata terkait kecelakaan itu telah diselesaikan di luar pengadilan. Namun, dalam kasus Stumo, keluarganya tidak dapat mencapai kesepakatan dengan Boeing sebelum persidangan, yang dimulai pada hari Senin.
"Rasanya sejak dia pergi, kami tidak diizinkan untuk bahagia," kata Michael Stumo, orang tua korban, yang juga hadir dipersidangkan saat bersaksi.
"Terkadang Anda mendapati diri Anda bahagia dan Anda mengoreksi diri sendiri, seolah-olah Anda seharusnya tidak bahagia," ujarnya.
"Rasanya seperti organ-organ saya hancur di dalam tubuh saya," ujar istrinya Nadia Milleron.
"Kami pernah kehilangan Nels sebelumnya. Bagaimana mungkin kami kehilangan dua orang?" katanya, merujuk pada seorang putra yang meninggal karena kanker saat masih bayi.
Kecelakaan Ethiopian Airlines ini terjadi setelah kecelakaan Lion Air sekitar empat setengah bulan sebelumnya di Indonesia. Kedua kecelakaan tersebut menelan korban jiwa sebanyak 346 orang.
Boeing mengakui bahwa perangkat lunak anti-stalling terlibat dalam kedua kecelakaan tersebut. Pengacara perusahaan raksasa penerbangan tersebut, Dan Webb, menyatakan kesedihan perusahaan atas kecelakaan tersebut seraya menyebut bahwa ia setuju bahwa keluarga korban harus menerima "kompensasi finansial yang signifikan atas kerugian yang mereka alami".
"Satu-satunya perbedaan pendapat yang kami miliki adalah, kami tidak sepakat mengenai jumlah kompensasi yang tepat," katanya.
Pernyataan pembuka Webb serupa dengan yang ia sampaikan pada November 2025 selama persidangan perdata pertama terhadap Boeing terkait dengan kedua kecelakaan tersebut.
(sef/sef) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]