Internasional

Kenapa Trump Melunak Damai ke Iran, AS Sudah Kehilangan Tenaga?

tfa, CNBC Indonesia
Kamis, 07/05/2026 10:00 WIB
Foto: Perang AS-Iran (via REUTERS/Majid-Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah sepertinya akan mereda. Laman Amerika Serikat (AS), Axios melaporkan bagaimana nota kesepahaman (MOU) 14 poin sepertinya akan diketuk Washington dan Iran.

Lalu, apakah AS melunak karena kehabisan tenaga menghadapi Iran?



Sebenarnya, konflik AS dan Iran, menurut pengamat, menjadi pelajaran penting bagi negara-negara adidaya alias superpower, di tengah perubahan lanskap geopolitik global. Dalam situasi dunia yang makin tidak stabil, kekuatan besar disebut tidak lagi bisa "sembarangan menghamburkan sumber daya demi menjaga gengsi politik maupun militer".


Direktur Program Valdai Club, Timofey Bordachev, menilai politik global saat ini tak lagi menyerupai kompetisi untuk menunjukkan dominasi semata. Menurutnya, dunia kini bergerak menjadi arena "perlombaan bertahan hidup" yang menuntut efisiensi penggunaan sumber daya.

"Bukan negara paling brilian yang akan bertahan, tetapi mereka yang tahu bagaimana mengalokasikan sumber daya secara bijak," tulis Bordachev, seperti dikutip RT, Kamis (7/5/2026).

Ia mengatakan pengeluaran besar untuk operasi militer di wilayah pinggiran kini justru menjadi tanda kemunduran strategis. Sebab, biaya menjaga stabilitas domestik terus meningkat sementara pertumbuhan ekonomi global melambat.

Dalam konteks itu, perang dan tekanan berkepanjangan AS terhadap Iran disebut menjadi contoh nyata keterbatasan negara adidaya modern. Meski Washington selama bertahun-tahun memberikan tekanan ekonomi dan militer terhadap Teheran, hasil yang diperoleh dinilai minim.

"Bagi Amerika Serikat, Iran telah terbukti sebagai kasus yang tepat. Terlepas dari tekanan berkelanjutan dan konfrontasi langsung bersama sekutunya, Washington hanya mencapai sedikit hasil," ujar Bordachev.

Ia menilai Iran tetap mampu bertahan, sementara AS justru harus mengeluarkan sumber daya besar dengan hasil yang tidak sebanding. Kondisi itu, menurutnya, ikut menggerus kredibilitas global Amerika Serikat serta melemahkan kepercayaan para sekutunya.

Bordachev menekankan bahwa di era modern, kekalahan kecil sekalipun akan langsung terekspos ke publik dan diperbesar oleh media maupun lawan politik. Dampaknya bukan hanya terhadap posisi internasional suatu negara, tetapi juga kepercayaan masyarakat di dalam negeri.

"Dalam era pengawasan konstan, tidak ada kekalahan kecil," katanya.

Ia kemudian menyinggung sejarah rivalitas negara-negara besar, mulai dari "Great Game" antara Rusia dan Inggris di Asia Tengah pada abad ke-19 hingga konflik proksi selama Cold War. Menurutnya, pola persaingan di wilayah pinggiran seperti itu pernah menjadi strategi utama negara-negara besar untuk menghindari perang langsung.

Namun kini, pendekatan tersebut dinilai semakin tidak relevan. Apalagi, biaya dan risikonya terlalu besar.

Bordachev juga menilai pengalaman Uni Soviet menjadi contoh nyata bahaya ekspansi berlebihan. Pada 1980-an, Moskow disebut terlalu banyak menghabiskan sumber daya untuk mempertahankan pengaruh global hingga akhirnya membebani ketahanan domestiknya sendiri.

"Biaya terus bertambah, sementara manfaatnya tetap abstrak," tulisnya.

Di sisi lain, China dinilai mengambil pendekatan berbeda. Beijing disebut lebih fokus pada kepentingan inti seperti Taiwan dan Laut China Selatan, tetapi cenderung menahan diri dalam keterlibatan militer global yang lebih luas.

Pendekatan tersebut, menurut Bordachev, menunjukkan bahwa fondasi kekuatan negara modern tidak lagi terletak pada kemampuan hadir di semua konflik dunia, melainkan pada kekuatan ekonomi dan kohesi sosial di dalam negeri. Ia menyebut AS justru masih terus menghabiskan sumber daya di banyak kawasan demi mempertahankan dominasi global, meski tidak selalu memiliki kebutuhan strategis yang jelas.

"Hasilnya adalah erosi bertahap baik kemampuan maupun otoritasnya," ujar Bordachev.

Menurutnya, negara-negara besar kini mulai belajar bahwa kelangsungan hidup tidak ditentukan oleh seberapa luas ambisi geopolitik mereka. Melainkan seberapa disiplin mereka dalam menentukan prioritas nasional.


(tfa/șef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Melunak, Minta Iran Telepon AS Jika Ingin Negosiasi