Siap-Siap RI Punya Gas 3 Kg Alternatif Pengganti LPG, Berapa Harganya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah tengah mengkaji pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) ukuran 3 kilogram sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) subsidi.
Menurut Bahlil, langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang terus membebani devisa negara.
"CNG ini untuk 3 kilogram, masih kita melakukan exercise dan uji coba terhadap tabungnya. CNG ini diharapkan dalam rangka mencari salah satu alternatif terhadap substitusi impor kita yang besar," kata Bahlil usai cara pelantikan di Kementerian ESDM, dikutip Kamis (7/5/2026).
Bahlil menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik impor LPG Indonesia saat ini mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Kondisi ini membuat pemerintah harus mengeluarkan devisa yang cukup besar setiap tahunnya.
"Bayangkan kita impor per tahun itu 8,6 juta ton untuk konsumsi. Di saat bersamaan, devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja, sekitar Rp 130 sampai Rp 140 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi. Dan subsidi kita, itu Rp 80 sampai Rp 87 triliun," ujarnya.
Harga lebih murah 30%
Bahlil menilai penggunaan CNG sejatinya sudah diterapkan untuk tabung berukuran 12 kilogram hingga 20 kilogram yang digunakan hotel dan restoran. Adapun, penggunaan CNG pada sektor tersebut dinilai cukup efisien.
Namun, pemerintah kini tengah mengembangkan teknologi tabung CNG ukuran 3 kilogram agar lebih sesuai digunakan masyarakat rumah tangga.
"Tapi kan untuk CNG ini, untuk yang 12 kg, yang 20 kg itu sudah jalan, untuk dipakai di hotel dan restoran. Dan kemudian bagus, dan itu lebih efisien. Tapi kan rakyat kan enggak mungkin kita suruh yang berat-berat itu, 20 kg. Nah, ini yang kita lagi godok," kata Bahlil.
Gas yang menjadi alternatif itu bahkan dinilai bisa lebih murah dibandingkan pemakaian LPG. Tak tanggung-tanggung, menurut hasil kajian, Bahlil mengatakan penggunaan CNG bisa lebih murah 30%.
"CNG itu sudah dilakukan kajian. Harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30% lah lebih murah," terang Bahlil usai ditemui di Istana Negara, Selasa (5/5/2026).
Kenapa lebih murah? Bahlil menerangkan, bahwa untuk bahan baku gas CNG berlimpah di Indonesia didukung dengan adanya industri di dalam negeri. "Jadi kita tidak melakukan impor, cost trasnportasinya saja sudah bisa mengcover," ungkap Bahlil.
Selain itu, gas CNG, kata Bahlil, berada di hampir semua wilayah yang ada sumber-sumber gasnya. Sehingga, ini bisa bisa lebih efisien.
(pgr/pgr) Add
source on Google