Sebut Situasi Sulit, Wamenperin Resmikan Pabrik Kawat Baja di Subang

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Rabu, 06/05/2026 17:35 WIB
Foto: (kiri ke kanan): Commercial Director Beka Wire Indonesia Sandy Suryadi dan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dalam Grand Opening Pabrik Kawat Besi Galvanis di Subang, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah derasnya arus impor baja murah dari China dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat penutupan pabrik, sebuah pabrik baru justru berdiri di Subang, Jawa Barat yakni Beka Wire Indonesia. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengakui suara goyahnya industri baja nasional makin santer terdengar belakangan.

"Terus terang belakangan ini ada banyak sekali informasi yang beredar di sosial media bahwa PHK, penutupan pabrik, ekonomi yang lesu menjadi konsumsi kita semua. Namun pada hari ini kita memberikan bukti bahwa di tengah situasi geopolitik yang sulit, buat siapa pun, tidak hanya buat pemerintah tapi juga para pelaku usaha, kita menyaksikan peresmian atau grand opening dari PT Wire Indonesia. Dengan demikian kita ingin sampaikan bahwa di dalam situasi yang sulit pun kesempatan akan selalu ada," kata Faisol dalam Grand Opening Pabrik Kawat Besi Galvanis di Subang, Rabu (6/5/2026).

Ia menyebut adanya pabrik baru ini membuka sekitar 120 lapangan pekerjaan baru. Lebih jauh, ia menekankan pentingnya industri logam dasar sebagai sektor penting dalam manufaktur nasional, terutama dalam memenuhi kebutuhan bahan baku seperti kawat baja.


"Dan apalagi di sektor industri logam ini, tentu saja pendirian pabrik seperti Beka Wire ini, ini akan menopang struktur dasar dari industri logam kita yang memang butuhkan banyak kawat besi dan baja," kata Faisol.

Dari sisi pelaku usaha, strategi ekspansi dilakukan secara bertahap untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus membaca respons pasar. Commercial Director Beka Wire Indonesia Sandy Suryadi tidak menyebut secara rinci nilai investasinya, namun Ia mengakui bahwa nilainya di atas Rp500 miliar.

"Nanti kita sedang bertahap ya. Jadi yang pertama emang tadinya kita mau langsung blast semuanya full, tapi kita memutuskan untuk biar menjalankan dulu yang pertama, baru setelah stabil setelah semuanya market mulai kenal baru kita masuk ke yang tahap kedua," ungkapnya.

Meski tekanan impor dari China masih tinggi, perusahaan tetap optimistis mampu bersaing, terutama jika didukung kebijakan yang tepat.

"Ya, saya yakin di Indonesia kita mampu bersaing dengan Tiongkok bilamana kita di-support juga oleh pemerintah untuk contoh kayak bahan buat gas natural gas PGN, ya kan. Terus kemudian juga bahan baku utama yang wire rod itu mungkin juga disupport oleh industri hulu, itu kita yakin dapat bersaing untuk domestik," ujarnya.

Sementara itu, dari sisi legislatif, adanya pabrik baru dinilai sebagai sinyal positif bagi perekonomian daerah maupun nasional. Anggota DPR RI Komisi XI Galih Dimuntur Kartasasmita menyoroti kontribusi pabrik terhadap penciptaan lapangan kerja dan devisa.

"Di tengahnya ketidakpastian ekonomi global yang pasti berdampak kepada ekonomi Indonesia, disini malah membangun dan meresmikan suatu pabrik. Yang gosipnya, dan ini saya akan cek dan kayaknya bener, itu 80 persen adalah penduduk Subang asli," ujarnya.

Selain itu, lokasi Subang dinilai strategis untuk pengembangan industri jangka panjang, didukung konektivitas infrastruktur di wilayah Rebana.

"Buat saya, saya melihat kedepannya itu pasti ini jadi Segitiga Emasnya Jawa Barat ke depan ya. Subang ada pelabuhan di utara, sekitar ya 20 menit, 30 menit dari Subang, dari sini Bandara Kertajati, sebelah kanan. Terus ada Kawasan Industri Rebana," jelasnya.

Foto: Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza saat menghadiri Grand Opening Pabrik Kawat Besi Galvanis di Subang, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Ekonomi Dunia Bergejolak, Indonesia Gaspol Jaga Pertumbuhan 5,4%