Purbaya Bertekad Hidupkan Kembali Mimpi RI Lewat Kebijakan Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan ambisinya untuk menghidupkan kembali penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai nikel.
Oleh karena itu, Purbaya akan mendorong insentif pembelian mobil listrik berupa pertambahan nilai ditanggung pemerintah atau PPN DTP 40%-100%. Kebijakan ini akan diluncurkan pada Juni 2026.
Purbaya mengatakan kebijakan ini diluncurkan dalam rangka mendukung penggunaan nikel dalam industri otomotif. Dia mengungkapkan dirinya pernah membaca artikel The Economist yang mengatakan bahwa mimpi Indonesia hancur karena baterai berbahan nikel tidak lagi dipakai produsen kendaraan listrik China.
"Kenapa saya ke arah sana? Karena saya pernah baca di The Economist kalau nggak salah bahwa mimpi Indonesia hancur tentang baterai karena China nggak pakai nikel," ungkapnya kepada pewarta, Rabu (6/5/2026).
Menurut Purbaya, artikel ini berdampak pada hilirisasi nikel Indonesia. Dia pun bertekad membalikkan kondisi ini dengan menghidupkan kembali nikel Indonesia.
"Saya mau memastikan mimpi kita bisa hidup terus. Bisa memanfaatkan sumber daya alam kita secara maksimal. Boleh nggak saya ngomong begitu? Boleh lah," ujarnya.
Sebagai catatan, hilirisasi nikel dan pengembangan EV berbasis nikel yang menjadi mimpi Indonesia kerap menerima kritik dari banyak pihak.
Awal tahun ini, laman The Economist mengeluarkan artikel yang mengkritisi kebijakan industri mobil listrik RI berjudul "Just because Indonesia has nickel doesn't mean it should make EVs." Mereka menuliskan soal kebijakan larangan ekspor nikel yang telah terbukti berhasil, namun tak bisa diterapkan untuk industri mobil listrik.
The Economist menilai pemerintah baru di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto ingin melangkah lebih jauh. Kabarnya orang-orang di sekitar Prabowo bermimpi membangun rantai pasokan mobil listrik dari atas ke bawah, dengan alasan sumber daya alam.
Namun kembali The Economist skeptis dengan rencana tersebut. Sebab kekuatan nikel sebagai bahan baku penting baterai EV tidak sama dengan seluruh rantai pasok kendaraan listrik.
Laman itu menuliskan bahan baku hanya sebagian kecil dari biaya EV. Indonesia juga disebut kurang menarik dari faktor lain dibandingkan Vietnam dan Thailand misalnya terkait kapasitas logistik dan pengetahuan lokal.
Media tersebut juga menekankan soal baterai berbasis nikel yang lebih mahal bukan yang diinginkan konsumen lokal. Mereka lebih suka menggunakan baterai lithium yang lebih murah.
Salah satu yang disoroti ongkos mewujudkan impian tersebut sangat mahal. Meski keuangan sehat, namun akan ada beban fiskal yang berat.
Rantai pasokan yang mungkin tercipta, tapi di sisi lain biayanya bisa jauh dari manfaat yang didapatkan.
Produsen mobil asing yang diharapkan melatih talenta lokal juga tak bisa begitu diharapkan, karena skalanya tidak besar. Sumber daya manusia yang kurang ahli mungkin akan membuat perusahaan asing memilih memasukkan tenaga asing dengan keterampilan yang tinggi.
(haa/haa) Add
source on Google