MARKET DATA
Internasional

Ngeri! Eks Mata-Mata AS yang Membelot Mau "Habisi" Warga Gaza

tps,  CNBC Indonesia
07 May 2026 06:05
Asap mengepul selama pemboman Israel di desa Kfarshuba di Lebanon selatan dekat perbatasan dengan Israel pada 16 September 2024 di tengah ketegangan lintas perbatasan yang sedang berlangsung saat pertempuran berlanjut antara Israel dan Hamas di Jalur
Foto: Asap mengepul selama pemboman Israel di desa Kfarshuba di Lebanon selatan dekat perbatasan dengan Israel pada 16 September 2024 di tengah ketegangan lintas perbatasan yang sedang berlangsung saat pertempuran berlanjut antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza. (AFP/RABIH DAHER)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jonathan Pollard, mantan analis intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat yang sempat mendekam di penjara selama 30 tahun karena membocorkan rahasia militer kepada Israel, mengumumkan akan maju sebagai calon anggota Knesset (Parlemen Israel) tahun ini. Pollard membawa platform politik ekstrem yang menyerukan pembersihan etnis di Jalur Gaza.

Mengutip laporan CNN International pada Selasa (5/5/2026), pria yang kini menetap di Israel tersebut secara terbuka menyuarakan pengusiran paksa terhadap warga Palestina. Ia berambisi agar wilayah Gaza sepenuhnya dianeksasi dan dihuni kembali oleh warga Israel.

"Saya pribadi lebih memilih pengusiran paksa terhadap semua penduduk Gaza saat ini, dan aneksasi Gaza serta populasi ulangnya oleh kita," ujar Pollard dalam wawancara dengan televisi Channel 13.

Pollard mengungkapkan bahwa keputusannya untuk terjun ke dunia politik dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 ke wilayah Israel selatan yang menewaskan hampir 1.200 orang. Ia menyalahkan pemerintah Israel atas kegagalan mencegah serangan tersebut maupun keterlambatan dalam melakukan intervensi saat peristiwa berdarah itu terjadi.

"Sampai saat itu, saya mengira pengabaian dan pengkhianatan yang saya alami dari pemerintah adalah pengecualian dan bukan aturan, tetapi setelah 7 Oktober saya menyadari bahwa saya bukanlah pengecualian," tutur Pollard.

Sebagai informasi, Pollard dibebaskan bersyarat pada usia 61 tahun dari penjara AS pada tahun 2015 setelah menjalani hukuman tiga dekade karena menjual rahasia militer kepada Israel demi uang. Ia dan istrinya, Anne Henderson, ditangkap pada tahun 1985 setelah menyerahkan dokumen rahasia dalam jumlah besar yang diperkirakan cukup untuk memenuhi ruangan berukuran 3x2x2 meter.

Atas pengkhianatan tersebut, mantan intelijen itu menerima imbalan berupa uang tunai dan perhiasan. Meskipun ia mengklaim tindakannya didasari kesetiaan pada Israel, pengacara Pentagon Marion Bowman pada 2014 menyatakan bahwa motif utamanya adalah uang dan ia diduga memberikan material rahasia ke dua negara lainnya.

"Mata-mata tersebut dimotivasi oleh uang sama besarnya dengan kesetiaan kepada Israel," kata Bowman dalam penilaiannya mengenai kerusakan keamanan nasional AS akibat ulah Pollard.

Pollard akhirnya beremigrasi ke Israel pada tahun 2020 setelah masa pembebasan bersyaratnya berakhir dan disambut bak pahlawan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Namun, meski pernah didukung penuh oleh Netanyahu, kini ia menjadi kritikus keras terhadap sang Perdana Menteri dan menyebut Israel tidak memenangkan perang yang berkecamuk sejak 2023.

"Kita memerlukan kepemimpinan baru dengan kebijakan yang lebih jelas dan lebih tajam," tegas Pollard.

Menurut laporan Channel 13, Pollard akan memasuki panggung politik sebagai bagian dari partai baru yang dibentuk bersama Nissim Louk. Louk merupakan ayah dari Shani Louk, gadis berusia 22 tahun yang tewas dalam serangan 7 Oktober saat menghadiri festival musik di dekat perbatasan Gaza.

Walaupun kerap melontarkan kritik pahit atas kegagalan keamanan Israel, Pollard menyatakan akan tetap memberikan dukungan jika Netanyahu kembali memimpin koalisi pemerintahan setelah pemilu yang dijadwalkan pada Oktober tahun ini.

"Jika Netanyahu keluar dari pemilihan mendatang tetap memimpin koalisi pemerintahan, maka kita harus mendukungnya," ucap Pollard mengakhiri.

(tps/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Israel Diam-Diam Lakukan Pembersihan Etnis, 44 Ribu Warga Ditumpas


Most Popular
Features