Internasional

Perang Iran Jadi Bumerang Trump, Bukti Bisa "Jatuh Tertimpa Tangga"

tfa, CNBC Indonesia
Rabu, 06/05/2026 12:04 WIB
Foto: REUTERS/Nathan Howard

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kini berpotensi menjadi bumerang bagi Presiden Donald Trump. Setidaknya ada beberapa fakta yang memperlihatkan hal tersebut.

Lebih dari dua bulan sejak perang pecah, belum ada kemenangan militer maupun diplomatik yang jelas. Sebaliknya, situasi justru kian buntu dengan risiko kerugian ekonomi dan politik yang semakin besar bagi Washington.


Melansir AFP, Rabu (6/5/2026), kedua pihak sama-sama mengklaim berada dalam posisi kuat, tetapi perbedaan sikap yang tajam membuat jalan keluar sulit terlihat. Bahkan ketika Teheran mengajukan proposal baru untuk memulai kembali negosiasi melalui mediator, Trump langsung menolaknya.

Kebuntuan ini memicu kekhawatiran. Bahwa, konflik akan berlangsung tanpa batas waktu dan meninggalkan dampak yang lebih buruk dibanding sebelum perang dimulai.

Dampak paling nyata mulai terasa di sektor ekonomi. Harga bensin di AS telah melampaui US$4 per galon atau sekitar Rp69.000 per galon, menambah tekanan terhadap Trump yang popularitasnya terus menurun.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap Trump turun ke 34%, level terendah selama masa jabatannya. Kondisi ini juga memperburuk peluang Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu.

Sebenarnya, pemerintah AS tetap berusaha menunjukkan optimisme. Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales menyebut tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran terus meningkat.

"Presiden Trump memegang semua kartu dan memiliki waktu untuk mencapai kesepakatan terbaik," ujarnya.

Namun pandangan berbeda datang dari Laura Blumenfeld dari Johns Hopkins University. Menurutnya, Trump akan dikenang sebagai "presiden AS yang membuat dunia kurang aman".

Sejumlah target utama perang juga dinilai belum tercapai. Ambisi untuk menekan program nuklir Iran masih jauh dari berhasil, dengan persediaan uranium yang diyakini tetap aman meski sempat menjadi target serangan.

Teheran pun tetap bersikeras mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium. Upaya menghentikan dukungan Iran terhadap kelompok proksi seperti Hezbollah, Houthi, dan Hamas juga belum menunjukkan hasil signifikan.

Di sisi lain, Iran justru dinilai memperoleh keuntungan strategis baru, terutama melalui kendalinya atas Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di jalur ini telah memicu guncangan pasar energi global.

"Iran telah menyadari bahwa mereka bisa menutup selat kapan saja. Pengetahuan itu membuat mereka lebih kuat," ujar pengamat lain dari Center for Strategic and International Studies, Jon Alterman.

Dengan negosiasi yang mandek, sejumlah analis memperingatkan konflik ini berpotensi berubah menjadi konflik beku. Ini merujuk situasi tanpa resolusi jelas namun terus memicu ketegangan.

Amerika Serikat juga harus menanggung biaya strategis baru, termasuk retaknya hubungan dengan sekutu Eropa dan meningkatnya ketegangan dalam NATO. Di dalam negeri, tekanan terhadap Trump semakin besar untuk segera mengakhiri perang yang tidak populer ini.

Dalam situasi serba sulit, Trump disebut mulai mempertimbangkan berbagai opsi, mulai dari blokade laut berkepanjangan hingga kemungkinan menarik diri secara sepihak. Namun langkah mundur berisiko dipersepsikan sebagai kemenangan bagi Iran. Analis Sina Toossi bahkan menilai Teheran saat ini hanya bermain waktu, menunggu momentum yang lebih menguntungkan.


(tfa/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Siaga Perang As-Iran Jilid 2 - Ini Modus Penyeleweng BBM-LPG