MARKET DATA

Bos Pengusaha Plastik Ungkap Barang Impor Harga Dumping 5-30% Serbu RI

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
05 May 2026 21:20
(kiri ke kanan): Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Ketua Umum Inaplas Suhat Miyarso, Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar AD Budiyono dalam dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Selasa (5
Foto: (kiri ke kanan): Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Ketua Umum Inaplas Suhat Miyarso, Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar AD Budiyono dalam dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Selasa (5/5/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri plastik dalam negeri menghadapi tekanan dari sisi global maupun domestik. Selain terganggunya pasokan bahan baku, praktik dumping dari negara lain juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan usaha.

Masuknya produk impor dengan harga murah membuat daya saing industri lokal semakin tertekan. Kondisi ini terjadi di tengah kelebihan pasokan global yang mendorong produsen luar negeri mencari pasar ekspor.

Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Suhat Miyarso Suhat Miyarso menuturkan, praktik dumping sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan berdampak signifikan.

"Harga yang mereka jual ke Indonesia itu betul-betul harga dumping, lebih rendah antara 5-20 persen, bahkan ada yang sampai 30 persen. Ini sangat memberatkan industri dalam negeri," ujarnya dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Masalah ini tidak hanya berdampak pada produsen bahan baku, tetapi juga merembet ke sektor hilir yang harus bersaing dengan produk jadi impor.

Selain itu, keterbukaan pasar melalui berbagai perjanjian perdagangan bebas membuat produk impor semakin mudah masuk ke Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, pelaku industri menilai perlindungan pasar menjadi sangat penting.

"Kita inginkan adanya kebijakan pengendalian impor, baik bahan baku maupun barang jadi. Kalau barang jadi bebas masuk dengan harga dumping, tentu ini tidak sehat," katanya.

Saat ini, Inaplas telah mengajukan berbagai langkah trade remedies seperti anti-dumping dan safeguard kepada pemerintah. Proses tersebut sudah berjalan, namun belum seluruhnya terealisasi.

Tanpa intervensi kebijakan yang kuat, pelaku industri khawatir sektor plastik akan mengalami nasib serupa dengan industri lain yang terpukul oleh impor murah.

"Kita butuh kepastian hukum, perlindungan pasar, dan kebijakan yang konsisten. Kalau tidak, setiap krisis akan membuat kita kembali ke titik yang sama," tegas Suhat.

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar AD Budiyono juga menyoroti dampak nyata dumping terhadap industri hilir.

"Untuk terpal plastik misalnya, dulu ada delapan industri, sekarang tinggal dua karena 70 persen pasarnya diambil impor. Ini bukti nyata dampaknya," ujar Fajar dalam kesempatan yang sama.

(dce) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Prabowo Yakin RI Bebas Impor Energi 5-7 Tahun Lagi, Ini Pendorongnya


Most Popular
Features