Heboh Pejabat Pentagon Ungkap Lemahnya AS, Gampang Dirudal China-Rusia
Jakarta, CNBC Indonesia - Pejabat senior Pentagon memberikan pengakuan mengejutkan di hadapan para anggota parlemen bahwa Amerika Serikat saat ini tidak memiliki pertahanan yang mumpuni untuk melawan senjata hipersonik canggih milik Rusia dan China. Pernyataan ini menjadi peringatan keras bagi Washington mengenai kerentanan sistem keamanan nasional mereka terhadap teknologi rudal modern para rivalnya.
Mengutip Russia Today pada Selasa, (28/04/2026), Asisten Sekretaris Perang untuk Kebijakan Luar Angkasa, Marc Berkowitz, mengungkapkan dalam sidang komite angkatan bersenjata Senat pada hari Senin, (27/04/2026), bahwa sistem pertahanan tanah air saat ini sangat terbatas. Ia menyebut sistem yang ada sekarang hanya dirancang khusus untuk menghadapi serangan skala kecil dari "negara nakal".
"Negara ini akan menghadapi masalah serius melawan rudal balistik dan tidak memiliki pertahanan terhadap senjata hipersonik atau rudal jelajah saat ini," ujar Berkowitz.
Kondisi tersebut membuat Pentagon mendesak percepatan pendanaan untuk program sistem pertahanan rudal "Golden Dome". Inisiatif ini sebelumnya telah diluncurkan oleh Presiden Donald Trump segera setelah menjabat pada Januari 2025 dengan tujuan memperluas kapabilitas pertahanan baik di darat maupun di luar angkasa.
Pemerintahan Trump mengusulkan investasi skala besar yang diperkirakan akan menelan biaya sekitar US$ 175 miliar (Rp 3.019,2 triliun) hingga US$ 185 miliar (Rp 3.191,8 triliun) selama satu dekade mendatang. Proyek ambisius ini diharapkan mampu menutup celah keamanan yang selama ini menjadi kekhawatiran militer Amerika Serikat.
Michael Guetlein, yang memimpin program Golden Dome di dalam Pasukan Ruang Angkasa AS (US Space Force), bersaksi bahwa baik China maupun Rusia terus memodernisasi persenjataan mereka secara masif. Ia memberikan perhatian khusus pada pengerahan kendaraan luncur hipersonik serta pengembangan rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik oleh Rusia yang mampu bermanuver di atmosfer.
"Sistem ini dirancang untuk menantang kemampuan pelacakan dan keterlibatan sensor kami serta memastikan kapabilitas serangan yang responsif dan mampu bertahan," kata Guetlein.
Di sisi lain, Moskow menegaskan bahwa pengembangan senjata strategis ini merupakan respons atas langkah Amerika Serikat yang menarik diri dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik (ABM) pada era Presiden George W. Bush. Meskipun Washington mengeklaim sistem perisainya hanya ditujukan untuk ancaman seperti Korea Utara atau Iran, Rusia tetap menganggapnya sebagai ancaman terhadap keseimbangan nuklir global.
Tekanan terhadap sistem pertahanan Amerika Serikat kian terasa seiring berkecamuknya perang AS-Israel melawan Iran. Laporan internal menunjukkan bahwa stok rudal pencegat untuk sistem THAAD dan Patriot telah terkuras habis dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan kembali ke level aman.
source on Google [Gambas:Video CNBC]