Bukti Ekonomi RI Baik-baik Saja Terpampang di Pajak, Ini Datanya!
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah memastikan aktivitas ekonom domestik masih menunjukkan kinerja solid pada awal tahun 2026. Hal ini tercermin dari penerimaan pajak yang tumbuh signifikan pada triwulan pertama tahun ini.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan, pertumbuhan penerimaan pajak pada awal tahun ini bahkan sempat melesat tinggi. Secara neto, sepanjang triwulan pertama 2026 pajak tumbuh 20,7% dari Rp 327 triliun pada triwulan pertama 2025 menjadi Rp 394,8 triliun pada triwulan pertama 2026.
"Pajaknya di Januari itu tumbuh 30,7%. Februari 30,1%. dan di bulan Maret 7,6%. In average, year to date nya sekarang 20,7%," ujar Juda dalam acara National Policy Dialogue dan Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI), Senin (27/4/2026).
Secara rinci, penerimaan pajak terdiri dari Pajak Penghasilan (PPh) Badan Rp 43,3 triliun atau meningkat 5,4%.
Adapun PPh Orang Pribadi dan PPh 21 tercatat mencapai Rp 61,3 triliun atau meningkat 15,8%. Sementara PPh final PPh 22 dan PPh 26 Rp 76,7 triliun atau meningkat 5,1%.
Sementara Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp155,6triliun atau melonjak hingga 57,7% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, penerimaan pajak lainnya tercatat Rp57,9 triliun atau mengalami penurunan 5,7% secara tahunan.
Juda menjelaskan, lonjakan penerimaan pada PPN dan PPnBM menjadi indikator kuat bahwa aktivitas ekonomi, baik dari sisi konsumsi maupun dunia usaha, tengah berada dalam tren positif.
"Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi, baik konsumsi maupun transaksi di perindustrian, di sektor dunia usaha, itu tumbuhnya juga cukup baik di triwulan pertama," ujarnya.
"Jadi terutama dari PPN jelas digunakan untuk transaksi konsumsi, transaksi pemberian barang, baik itu barang retail maupun barang untuk dunia usaha," ujarnya.
Melihat peningkatan signifikan pada penerimaan PPN dan PPnBM, Kementerian Keuangan optimis pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2025 akan mencapai 5,5%. Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan triwulan keempat 2025 sebesar 5,39%.
"Proyeksi Kementerian Keuangan pertumbuhan di triwulan 1 diperkirakan 5,5% dengan melihat PPN dan PPnBM meningkat cukup signifikan. Kemudian ekspektasi konsumen dan sebagainya, kemudian kita optimis bahwa di triwulan 1 akan tumbuh 5,5%," ujar Juda.
Juda menegaskan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi pada awal tahun juga ditopang oleh membaiknya kepercayaan konsumen serta aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga.
"Dengan adanya upaya-upaya pemerintah untuk mendorong percepatan belanja, maka kelihatan juga konsumsi masyarakat masih dalam tren meningkat. Ini data Mandiri Spending Index, consumer goods, dan sebagainya, ini trennya masih mengalami kenaikan. Begitu juga keyakinan konsumen atas kondisi ekonomi kita, ini masih sangat kuat," ujarnya.
(mij/mij) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]