Internasional

Dunia Makin Panas, Cuan China Justru Naik Ugal-ugalan

tfa, CNBC Indonesia
Senin, 27/04/2026 17:00 WIB
Foto: Ilustrasi bendera China. (VCG via Getty Images/VCG)

Jakarta, CNBC Indonesia - Keuntungan perusahaan industri China melesat pada Maret 2026, menunjukkan ketahanan kuat di tengah gejolak harga energi global akibat konflik Timur Tengah. Data terbaru menunjukkan lonjakan laba yang signifikan, didorong oleh booming sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor.

Biro Statistik Nasional (NBS) mencatat, laba industri naik 15,8% secara tahunan pada Maret dan ini menjadi pertumbuhan tercepat dalam enam bulan terakhir. Angka ini lebih tinggi dibanding kenaikan 15,2% pada periode Januari-Februari.

Secara kumulatif, laba perusahaan industri pada kuartal I-2026 tumbuh 15,5% (year-on-year), menjadi awal tahun terkuat sejak 2017, di luar lonjakan anomali saat pandemi 2021.


"Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh sektor peralatan dan manufaktur teknologi tinggi," ujar Yu Weining, kepala ahli statistik NBS, seperti dikutip CNBC International.

Ia memerinci, laba sektor peralatan melonjak 21%, sementara manufaktur teknologi tinggi meroket 47,4% pada kuartal pertama.

Ledakan AI dan industri chip menjadi motor utama. Laba produsen serat optik bahkan melonjak hingga 336,8% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, produsen optoelektronik dan perangkat display masing-masing mencatat kenaikan laba sebesar 43% dan 36,3%.

Permintaan terhadap produk pintar juga ikut mengerek kinerja. Laba produsen drone naik 53,8%, seiring meningkatnya adopsi perangkat konsumen berbasis teknologi cerdas.

Tak hanya itu, sektor hulu juga mencatat pemulihan. Laba produsen bahan baku melonjak 77,9% pada kuartal pertama, ditopang peralihan kilang minyak ke zona profit. Industri strategis seperti kedirgantaraan, energi baru, dan teknologi informasi generasi berikutnya turut menyumbang lonjakan laba besar, termasuk sektor logam non-ferrous yang naik 116,7%.

Sementara itu, Presiden dan Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, menilai ekspor menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan. Ia mencatat, pada kuartal pertama ekspor China tumbuh 14,7% dalam dolar AS atau laju tercepat sejak awal 2022. Dengan asumsi kurs Rp17.000 per US$, kenaikan tersebut setara sekitar Rp249,9 triliun untuk setiap tambahan US$14,7 miliar.

"Namun konflik di Timur Tengah akan tetap membebani ekonomi pada kuartal kedua, terutama melalui kenaikan harga energi dan melemahnya permintaan global," kata Zhang.

Kenaikan harga energi memang mulai terasa. Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 48% sejak eskalasi konflik pada akhir Februari, mendorong kenaikan biaya bahan baku seperti kimia, serat, dan plastik di seluruh rantai pasok global. Meski demikian, struktur energi China yang lebih bergantung pada batu bara dan energi terbarukan memberikan bantalan terhadap gejolak tersebut.

Kepala ekonom China di Morgan Stanley, Robin Xing, mengatakan sekitar 70% perusahaan dalam 32 sektor industri melaporkan guncangan biaya yang lebih kecil dan gangguan produksi yang lebih ringan dibandingkan pesaing global.

"China berada pada posisi yang relatif lebih baik dan berpotensi merebut pangsa pasar ekspor di tengah guncangan energi yang besar namun tidak ekstrem," ujarnya.

Meski begitu, tekanan belum sepenuhnya mereda. Permintaan global yang melambat berpotensi menahan laju ekspor, sementara tingginya biaya impor energi dapat terus menekan margin keuntungan. Di dalam negeri, pelemahan pasar properti dan lesunya pasar tenaga kerja juga membebani permintaan, memicu persaingan harga di berbagai sektor.

Namun ada sinyal perbaikan dari sisi harga. Indeks harga produsen (PPI) China kembali tumbuh positif pada Maret, didorong oleh kenaikan harga minyak, mengakhiri periode deflasi terpanjang dalam beberapa dekade.

Morgan Stanley memperkirakan inflasi produsen akan naik 1,2% tahun ini setelah turun 2,6% pada tahun sebelumnya, sementara inflasi konsumen diproyeksikan meningkat menjadi 0,8% dari kondisi stagnan tahun lalu.


(tfa/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ukur Kekuatan Militer AS di Tengah Konflik Timur Tengah