Rupiah Melemah-Dolar AS Tembus Rp17.260, Begini Reaksi Anindya Bakrie

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Jumat, 24/04/2026 13:55 WIB
Foto: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie saat ditemui di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). (CNBC indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Anindya Novyan Bakrie menilai pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini perlu disikapi secara hati-hati oleh dunia usaha, di tengah tekanan likuiditas global.

"Memang ya kita mesti menyikapi dengan kepala dingin, dan juga strategis ya terkait gimana nih dengan nilai tukar," kata Anindya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Ia mengakui rupiah tengah berada dalam tren pelemahan, namun menekankan, faktor global menjadi pendorong utama dari pelemahan tersebut.


"Nilai tukar ya seperti itu melemah. Tapi kalau kita lihat pelemahan ini alasannya yang banyak, satu, tentu kalau foreign exchange itu kan berhubungan dengan dolar terutama," jelasnya.

Menurut dia, dinamika pasar saat ini menunjukkan pergeseran perilaku investor terhadap aset safe haven.

"Nah kalau kita lihat, selama ini yang menjadi safe haven itu emas saja turun. Ini disebabkan karena memang justru sebaliknya yang kejadian. Safe havennya ini justru terjadi penjualan," kata dia.

Anindya menilai, kondisi itu mencerminkan kebutuhan likuiditas global yang tinggi, sehingga investor cenderung menarik dana dari berbagai aset, termasuk pasar negara berkembang.

"Karena yang dicari oleh pasar adalah mana saja yang bisa memberikan likuiditas. Jadi selama dilihat ada likuiditas di suatu mata uang termasuk rupiah, pasti menjadi suatu kemungkinan untuk menarik," ujarnya.

Ia juga menyinggung tekanan yang terlihat di pasar modal domestik. "Dan ini terlihat jelas di capital market minggu ini, so far setiap hari merah. Jadi artinya banyak yang mengambil likuiditas. Bukan berarti fundamental bagus atau jelek, tapi artinya likuiditas lagi ditarik," lanjut dia.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Direktur Eksekutif dan Direktur Insight Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian menilai pelemahan rupiah memang membawa tekanan nyata bagi dunia usaha, terutama dari sisi pembiayaan.

"Yang pasti ya, kalau kita lihat di kondisi sekarang, kami memandang kalau pelemahan rupiah ini tentunya itu membawa tekanan bagi dunia usaha di Indonesia, dan sebenarnya kita juga sadar, di satu sisi tekanan ini seringkali adalah tekanan yang muncul bukan hanya karena resikonya dari dalam negeri saja. Tapi kita lihat kondisinya ini datang dari luar negeri dikarenakan pressure terhadap harga minyak dan lain sebagainya," kata Fakhrul dalam kesempatan yang sama.

Ia menegaskan, tekanan eksternal seperti lonjakan harga energi membuat pelemahan rupiah sulit dikendalikan sepenuhnya oleh faktor domestik.

Foto: Muhammad Luthfi Rahman

"Pada pendapat kami bahwa kita juga sadar pelemahan rupiah itu tidak bisa sepenuhnya kita kontrol. Karena itu kita berharap dari pemerintah di periode tekanan yang sedang terjadi terhadap dunia usaha saat ini. Pemerintah harus memprovide kita bantalan selama ini kondisinya terjadi," ujarnya.

Meski demikian, Fakhrul memandang pelemahan rupiah bersifat sementara, seiring kondisi global yang belum stabil.

"Cuman di satu sisi profesional judgement saya, kita melihat pelemahan rupiah ini sebenarnya cenderung sementara, dan memang kondisinya sekarang seluruh dunia itu sedang beramai-ramai untuk secure supply minyak," jelasnya.

Ia menambahkan, dominasi dolar dalam transaksi energi global turut mendorong lonjakan permintaan dolar.

"Dan minyak itu di middle east sebagian besar konsensus ekonominya dibeli lewat dolar. Itu yang terjadi dengan petrodolar. Karena itu, ketika harga minyak ada pressure dan semuanya terpaksa membeli minyak, permintaan dolar saat ini itu unusually high. Ini biasanya gak kayak gini," papar dia.

Menurutnya, tekanan tersebut akan mereda jika kondisi geopolitik global mulai stabil.

"Sampai nanti kondisinya normal, kita berharap ya mudah-mudahan ada konsensus baru di Timur Tengah. Ketika itu normal tekanannya sudah selesai. Tapi tekanan itu mau nggak mau sudah masuk ke dunia usaha kita," ujarnya.

Dampaknya, pelaku usaha mulai merasakan kenaikan biaya operasional, khususnya dari sektor energi dan bahan baku.

"Sudah terasa kalau kata Pak Anin itu aku terasa. Bahwa harga BBM-nya, harga energi dimana-mana meningkat saat ini, harga plastiknya meningkat. Itu yang kita lihat mudah-mudahan itu bisa kita tackle," kata Fakhrul.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas ketenagakerjaan di tengah tekanan tersebut.

"Dan memang kita harus juga handle bagaimana gelombang PHK ini untuk tidak berlanjut," tambahnya.

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terlemah sepanjang masa sebelum akhirnya menguat tipis. Mengacu data Refinitiv, rupiah dibuka di posisi Rp17.260/US$ pada Jumat (24/4/2026), menguat 0,12%. Sehari sebelumnya, rupiah ditutup di Rp17.280/US$, melemah 0,64% dan menjadi level terendah dalam sejarah.


(wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kupas Uji Daya Tahan Rupiah di Central Banking Forum 2026