Internasional

Trump Sebut Iran Mulai Terpecah, Teheran Beri Jawaban Menohok

tfa, CNBC Indonesia
Jumat, 24/04/2026 11:20 WIB
Foto: Bendera Iran. (REUTERS/Raheb Homavandi/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Iran kompak membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut adanya keretakan di internal kepemimpinan Teheran. Sejumlah pejabat tinggi menegaskan bahwa negara mereka tetap solid di tengah tekanan geopolitik dan konflik yang memanas.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, hingga Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan pesan serupa: Iran berada dalam kondisi bersatu. Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran melalui unggahan resmi di media sosial.

"Di Iran, tidak ada radikal atau moderat. Kita semua adalah orang Iran dan revolusioner," demikian pernyataan bersama para pejabat, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (24/4/2026).


"Dengan persatuan kokoh antara rakyat dan pemerintah serta ketaatan kepada Pemimpin Tertinggi, kami akan membuat agresor menyesali tindakannya," imbuhnya.

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menegaskan hal serupa dalam pernyataan terpisah.

"Iran bukan tanah perpecahan, tetapi benteng persatuan. Keragaman politik adalah bagian dari demokrasi kami, namun di saat genting, kami adalah satu tangan di bawah satu bendera," ujarnya.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga menegaskan bahwa koordinasi antara militer dan pemerintah berjalan solid.

"Kegagalan operasi teroris Israel tercermin dari bagaimana institusi negara Iran tetap bertindak dengan persatuan, tujuan, dan disiplin," kata Araghchi. "Medan perang dan diplomasi adalah dua front yang sepenuhnya terkoordinasi."

Trump sebelumnya berulang kali mengklaim adanya perpecahan di tubuh kepemimpinan Iran. Ia menyebut rakyat Iran "kesulitan mengetahui siapa pemimpin mereka" dan menuding adanya konflik antara kelompok moderat dan garis keras di Teheran.

Selain itu, Trump juga memberi sinyal tidak terburu-buru mencapai kesepakatan baru. Ia bahkan menilai tekanan ekonomi melalui blokade akan semakin memperlemah Iran.

"Blokade sangat ketat dan kuat, dan dari situ keadaan hanya akan semakin buruk. Waktu tidak berpihak pada mereka," tulis Trump di media sosial. "Kesepakatan hanya akan dibuat jika menguntungkan Amerika Serikat dan sekutunya."

Ketegangan antara kedua negara juga berdampak pada kebuntuan diplomatik. Iran menyebut batalnya pembicaraan yang sebelumnya direncanakan terjadi akibat blokade AS terhadap pelabuhan mereka.

Situasi di kawasan juga tetap rapuh. Ketidakpastian geopolitik, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan blokade laut oleh AS, kembali mendorong kenaikan harga minyak global.

Israel pun memberi sinyal siap kembali terlibat dalam konflik. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan pihaknya menunggu persetujuan Washington untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.

"Israel siap memperbarui perang melawan Iran. Militer kami siap dalam posisi bertahan maupun menyerang, dan target telah ditentukan," ujarnya.


(tfa/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Rudal Lintas Israel Selatan, Perang AS-Israel Vs Iran Kian Memanas