Internasional

Perang AS-Iran Bikin Dunia Babak Belur, China Tetap Jadi "Pemenangnya"

luc, CNBC Indonesia
Kamis, 23/04/2026 08:05 WIB
Foto: Presiden China Xi Jinping menghadiri pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin di Moskow, Rusia, 8 Mei 2025. (via REUTERS/Kirill Kudryavtsev)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah panasnya tensi akibat perang Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, China memilih memainkan peran yang lebih tenang namun strategis. Presiden Xi Jinping pekan ini secara terbuka menyerukan agar jalur pelayaran vital dunia, Selat Hormuz, kembali dibuka, sembari menegaskan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Dalam percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada Senin (20/4/2026), Xi menegaskan dukungan Beijing terhadap upaya perdamaian. Ia mengatakan China mendukung "semua upaya yang kondusif untuk memulihkan perdamaian dan berpihak pada penyelesaian sengketa melalui cara politik dan diplomatik".

"Selat Hormuz harus mempertahankan jalur pelayaran normal, karena hal ini melayani kepentingan bersama negara-negara kawasan dan komunitas internasional," kata Xi, menurut keterangan resmi China, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (23/4/2026).


Pernyataan Xi tidak secara langsung menyebut pihak-pihak utama dalam konflik, meskipun diketahui AS dan Iran menjadi aktor utama yang menyebabkan jalur strategis tersebut praktis terhenti selama tujuh minggu terakhir. Iran sebelumnya menutup selat itu bagi sebagian besar lalu lintas laut setelah perang dimulai pada 28 Februari, sementara AS memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran sejak 13 April.

Sikap Xi yang terukur ini kontras dengan pendekatan Presiden AS Donald Trump yang pada hari yang sama menyatakan di media sosial, "Aku memenangkan perang, DENGAN SELISIH YANG BESAR, semuanya berjalan dengan sangat baik", serta menegaskan blokade laut akan terus berlanjut hingga tercapai kesepakatan dengan Teheran.

Para analis menilai pendekatan China mencerminkan upayanya memposisikan diri sebagai kekuatan global yang lebih "bertanggung jawab", sekaligus tetap bermain di balik layar.

Gedaliah Afterman dari Abba Eban Institute menyebut China "mendapat keuntungan bukan dengan langkah dramatis, tetapi dengan menunggu dan memanfaatkan peluang sambil membiarkan Amerika menangani kekacauan".

Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan lama China yang tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Posisi tersebut juga diperkuat oleh hubungan Beijing yang relatif baik dengan semua pihak dalam konflik.

China tercatat sebagai mitra dagang terbesar Iran dan membeli hingga 90% minyak negara tersebut, menurut Komisi Ekonomi dan Keamanan AS-China. Pada 2021, kedua negara juga menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif selama 25 tahun.

Di saat yang sama, Beijing juga mempererat hubungan dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, serta tetap menjadi mitra dagang utama bagi AS dan Israel.

"China menjaga hubungan baik dengan AS, Israel, Iran, dan negara-negara Arab Teluk. Semua negara itu adalah teman kami, meskipun mereka saling bermusuhan," ujar Ma Xiaolin dari Zhejiang International Studies University.

Komitmen terhadap nonintervensi juga terlihat ketika China memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan koordinasi internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz. Langkah ini dinilai konsisten dengan sikap China dalam konflik lain seperti di Suriah dan Myanmar.

Fokus utama Beijing di kawasan Timur Tengah dinilai tetap pada aspek ekonomi. Chang Ching dari Society for Strategic Studies di Taipei mengatakan bahwa bagi China, stabilitas jauh lebih penting dibandingkan siapa yang menang dalam konflik.

"Mereka mengharapkan perdamaian dan stabilitas. Mereka tidak terlalu peduli siapa yang menang. Keinginan mereka adalah memulihkan lingkungan damai di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz," ujarnya.

Namun, kekhawatiran tetap ada. Feng Chucheng dari Hutong Research memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat mengancam keamanan energi China, mengingat lebih dari 40% impor minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah.

"Dari perspektif Beijing, keterlibatan langsung akan berisiko merusak keseimbangan yang selama ini dijaga antara Iran dan negara-negara Teluk," tulisnya dalam catatan riset.

Meski berhati-hati, China tetap aktif secara diplomatik. Menteri Luar Negeri Wang Yi dilaporkan melakukan 26 panggilan telepon sejak perang dimulai hingga menjelang gencatan senjata Iran-AS pada 8 April. Sementara utusan khusus Timur Tengah, Zhai Jun, menggelar hampir dua lusin pertemuan dengan berbagai pihak.

Xi sendiri juga bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi sebelum berbicara dengan Mohammed bin Salman.

Namun, Beijing justru meredam perannya dalam membantu tercapainya gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran, berbeda dengan peran aktifnya dalam normalisasi hubungan Saudi-Iran pada 2023.

Pengamat menilai hal ini dilakukan untuk menghindari keterlibatan terlalu dalam dalam proses perdamaian yang kompleks. Drew Thompson dari S. Rajaratnam School of International Studies menyebut China ingin menjadi penengah tanpa harus menanggung beban penuh proses tersebut.

"Mereka mencoba menjadi pembawa damai tanpa harus menjamin proses perdamaian," ujarnya. "Intinya, Timur Tengah bukan kepentingan inti China, sehingga modal politik yang bisa mereka keluarkan terbatas."

Di sisi lain, sejumlah laporan media menyebut China mungkin memainkan peran lebih besar di balik layar. CNN melaporkan kemungkinan pengiriman sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) ke Iran, sementara Financial Times menyebut Iran telah memperoleh satelit mata-mata China pada 2024 untuk menargetkan pangkalan militer AS.

Namun, Jodie Wen dari Universitas Tsinghua meragukan langkah tersebut, terutama menjelang rencana pertemuan antara Xi dan Trump pada Mei.

"Bagi pemerintah China, hubungan China-Iran penting, tetapi hubungan China-AS juga sama pentingnya," katanya.

Xi disebut berharap dapat membahas kesepakatan perdagangan dan tarif dengan Trump, yang sebelumnya mengancam akan mengenakan tarif 50% pada negara yang memasok senjata ke Iran. Selain itu, China juga tengah mempersiapkan KTT China-Arab kedua dan merampungkan perjanjian perdagangan bebas dengan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

Menurut Afterman, semua faktor ini membuat China harus sangat berhati-hati dalam menentukan langkah berikutnya.

"China sedang berjalan di atas tali ketika menyeimbangkan hubungannya," katanya. "Mereka juga memikirkan apa yang terjadi setelah perang, rekonstruksi, aktivitas ekonomi baru, dan investasi. China ingin berada dalam posisi yang sangat baik di kedua sisi Teluk."

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Umumkan Buka Selat Hormuz Demi China & Dunia